Sore Sebelum Kenduri

Di depan rumah, para lelaki dewasa dan beberapa anak muda sedang membangun tenda, tempat tamu duduk keesokan hari, mereka juga menyusun kursi-kursi plastik di bawah tenda. Dua terpal juga dipasang di belakang rumah, satu terpal lain dipa sang di samping rumah sebagai tempat berlindung perempuan-perempuan yang sedang memotong daun ubi, mengurus ayam dan merajang cabai. Dua perempuan terlihat sedang memasukkan beras pulut ke dalam dandang, yang kemudian mereka letakkan di atas tungku dengan api yang menyala.

Baca juga: Buntalan Mikail – Cerpen Ida Fitri (Koran Tempo, 23-24 Juli 2016)

Langit sudah berwarna kemerahan, para perempuan di belakang rumah Kak Puteh, yang duduk bergerombol terus saja membicarakan hal-hal penting dan hal-hal yang tidak penting, sampai suara orang mengaji terdengar dari pengeras suara mesjid. Mereka membubarkan diri, pulang ke rumah masing-masing. Malam menjelang, perempuan-perempuan itu, tanpa diupah dan diperintah siapa pun datang kembali ke rumah kenduri untuk membereskan hal-hal yang belum beres. Dua orang di antara mereka menyalakan api, memasak air panas untuk membuat kopi dan teh, sementara tiga yang lainnya mulai menyiapkan pulut dan kelapa parut yang sudah disediakan tadi sore sebagai teman minum teh orang-orang yang datang pada malam itu. Para lelaki terlihat bergerombol di bawah tenda depan rumah. Para remaja perempuan berada di ruang depan yang sudah dipasang pe laminan dan kain di dinding, sedang sibuk membuat serbet berbentuk bunga dan buah nanas. Tengah malam, ketika semua sudah dianggap selesai, orang-orang itu pulang dengan terkantuk-kantuk ke rumah masing-masing.

***

Keesokan hari, para tamu mulai berdatangan, semakin lama, semakin ramai saja. Remaja perempuan berdiri di belakang meja prasmanan yang disediakan untuk tamu perempuan, mereka memakai gaun brokat dan bibir bergincu. Remaja pria berada di belakang meja prasmanan yang disediakan untuk tamu laki-laki, mereka memakai baju batik dan bertugas melayani tamu laki-laki. Ketika tamu sedang ramai-ramainya, di meja prasmanan mulai terlihat adanya kepanikan yang terus menjalar ke arah dapur, pada orang-orang yang bertanggung jawab untuk menyuplai makanan ke meja prasmanan. Ayam rendang yang disediakan kemarin sudah sangat menipis dan hampir habis, padahal matahari belum naik ke atas kepala dan rombongan pengantar mempelai perempuan juga belum sampai. Salah seorang dari mereka menghubungi pemilik rumah yang juga menjadi sangat panik, sementara para tamu terus berdatangan seperti semut mengerubungi gula. Adik laki-laki Kak Puteh naik motor bersama salah seorang tetua desa untuk membeli ikan segar di pasar.

Arsip Cerpen di Indonesia