Sore Sebelum Kenduri

Dalam kepanikan pemilik rumah dan orang-orang yang bertanggung jawab untuk  komsumsi; di belakang rumah, di bawah salah satu terpal, Kak Nun terlihat mendekati Kak Na, setelah memaki beberapa kali, dia mulai menjambak Kak Na yang dituduh telah menghinanya kemarin sore. Tidak dijelaskan siapa yang telah menyampaikan hal tersebut pada Kak Nun. Kak Na yang tidak siap, tidak sempat menghindar, jilbabnya lepas dari kepala, dia mulai menangis sementara Kak Nun menjerit marah-marah. Perhatian mereka yang tadinya panik karena kehabisan lauk untuk kenduri beralih pada kedua perempuan itu.

Salah seorang lelaki berkumis yang mencoba melerai keduanya malah kena cakar kuku Kak Nun, lelaki itu memaki beberapa kali. Kemudian, muncul Nyak Syukri yang menarik tangan istrinya untuk menjauh dari tempat itu. Kak Na terus mengatakan tak bisa menerima perlakuan Kak Nun yang menyerangnya begitu saja.

Lelaki tua yang sepertinya imum gampong, meminta Kak Na untuk menahan diri dan menyelesaikan masalah itu di masjid, di depan para tetua kampung untuk mencari keadilan, di mana pihak yang bersalah diharuskan membayar denda atau sekadar meminta maaf pada pihak yang lain. Kak Na menyetujuinya, kemudian berjalan pulang meninggalkan rumah kenduri.

Baca juga: Boneka Tak Berlengan di Srebrenica – Cerpen Ida Fitri (Republika, 27 September 2015)

Ikan segar sudah dibawa pulang dari pasar, beberapa perempuan tetangga Kak Puteh mulai membersihkannya: membuang sirip, ekor, isi dalam ikan, bagian ujung kepala dan ujung pipi ikan, sambil membicarakan perkelahian Kak Nun dan Kak Na yang baru saja berlangsung di depan mereka. Ikan selesai digoreng ketika ayam benar-benar habis di meja prasmanan. Mereka mencampur bumbu rendang dengan ikan bandeng goreng dan meletakkan di meja prasmanan. Rombongan pengantin perempuan sudah sampai di pintu pagar, hantaran mereka diletakkan di atas selembar tikar, talam-talam yang berisi kue itu di tutup dengan tudung berkasab. Serombongan murid taman kanak-kanak yang sudah berhias dan dipakaikan baju adat mulai menari ranup lam puan di depan rumah, menyambut sang mempelai perempuan.

Musik menggiring anak-anak kecil itu yang membuat seekor kurcica ekor kuning yang bertengger di atas belimbing wuluh di belakang rumah menjadi cemburu. Burung itu mulai berkicau dan menari dari dahan ke dahan. Seekor kadal menggeleng-geleng kepala mengikuti irama ranup lam puan.

Tamat

Arsip Cerpen di Indonesia