Warisan dari Kakek

Aku pergi ke kampus dengan menggunakan angkutan kota. Untuk menaiki angkutan kota itu aku harus berjalan kaki dengan jarak 600 meter rumah ke jalan raya di mana angkutan kota itu melintas. Dalam perjalananku dari rumah menuju kejalan raya aku disuguhkan oleh lukisan sungai yang memiliki jurang begitu indah. Namun, sayang di tepi sungai aku melihat banyak sekali sampah berserakan yang membuat tidak enak dipandang.

Siapa yang sudah tega melakukan ini kepada sungai? Apa mereka yang membuang sampah itu tidak berpikir bahwa air yang mengalir itu adalah sumber kehidupan untuknya. Sungai bukan tempat pembuangan sampah, limbah atau sejenisnya. Sampah adalah ekosistem sungai perlu di rawat.

“Sial, tidak punya perasaan mereka yang membuang sampah di sungai itu. Mereka tidak memiliki hati nurani, pikiran bagaimana nasib anak dan cucu mereka pada masa depan jika sungai seperti ini,” gumamku dalam hati.

Tidak hanya itu, aku juga melihat ada seseorang yang hendak membakar sebuah topeng di pelataran rumahnya. Aku amati baik-baik topeng itu. “Hmm ternyata topeng itu topeng kelana.” Langsung aku dekati orang itu. Lalu berteriak dan berkata sembari memegang tangannya, “Jangan, Pak, jangan bakar topeng ini. Sini biar saya beli topeng ini jika bapak sudah tidak menghendakinya lagi. Biar saya simpan dan saya rawat topeng ini.”

Orang itu melamun tidak menjawab perkataanku dan aku masih memegang tangannya untuk menahan topeng itu agar tidak dibakarnya. “Pak… Pak… Bapaaak. Bapak kenapa?” tanyaku. Orang itu tersadar dari lamunannya dan langsung berkata dengan nada amarah. “Siapa kamu! Berani­beraninya menghalangi aku. Kamu tidak tahu tentang topeng ini. Topeng ini telah mencelakakan anakku. Topeng ini harus dibakar agar tidak ada lagi anakku yang meninggal karenanya.”

Astaghfirullah, Pak, sadar. Sadar, Pak. Semua ini tidak ada hubungannya dengan topeng ini. Kematian, jodoh, dan rezeki sudah ditentukan oleh Allah kita manusia hanya menjalankan hidup dengan sebaik­baiknya. Menjaga yang sudah ada di dalam kehidupan kita. baik itu anak, istri, kebudayaan, ilmu, dan lain-lain kita wajib menjaganya itu hukumnya wajib, Pak. Jika bapak membakar topeng itu bapak sama saja sudah menghilangkan satu kebudayaan yang sudah kita punya. Bapak sudah merusaknya dan itu tidak baik, Pak. Sini biar topeng ini saya beli saja, Pak. Berapa nominal uang yang harus saya berikan pada Bapak?”

Orang itu melamun kembali dengan tatapan kosong. Tampaknya dia memiliki trauma yang sangat mendalam tentang anaknya. “Pak… Pak.. berapa nominal yang harus saya keluarkan, Pak?”

Arsip Cerpen di Indonesia