Di Balik Sebuah Tawa

Kabar baiknya adalah, sejak memungut sampah di sekolah berasrama itu, aku menemukan lebih banyak hal yang bisa diberikan pada anak sulungku itu. Buku bekas, pulpen, botol sejenis tupperware tapi yang imitasi, kotak asesori, jam tangan, sepatu dan beberapa jenis pakaian seperti jilbab, celana dan baju, yang semuanya masih layak pakai. Saban hari, ada-ada saja sesuatu mengejutkan yang membuatku sumringah. Di benakku, sibuk berkeliaran kata-kata pujian seperti: “Wah, ini masih bagus,” “Yang ini pasti cocok dengan Lilis,” “Sayang sekali, barang mahal begini kok dibuang.”

Pernah suatu hari, aku menemukan kalkulator menyembul di antara serak kantung sampah. Setelah kuperiksa beberapa kali, kalkulator itu masih berfungsi. Casing-nya juga masih bagus. Kuingat, beberapa hari lalu, Lilis ingin dibelikan kalkulator. Sebab katanya itu sangat dibutuhkan di pelajaran akuntansi. Memang aku bahagia menemukan kalkulator ini. Tetapi di sisi lain aku berpikir, mungkin saja seseorang atau bahkan empunya kalkulator sendiri tak sengaja membuangnya. Kepada salah seorang remaja berambut ikal yang lewat aku bertanya, apakah benar kalkulator ini sudah dibuang oleh pemiliknya. Pokoknya kalau sudah di tempat sampah, berarti tidak digunakan lagi, dan boleh diambil juga, jawabnya.

Hatiku senang bukan kepalang. Lilis pun sangat suka dengan kalkulator itu. Ya, terkadang Tuhan memang menciptakan kebahagiaan dari hal paling sederhana. Maka sudah sepatutnyalah manusia tidak berputus asa dalam menemukannya, terlepas apakah kebahagiaan itu dicari atau diciptakan.

Hari ini—sudah menjadi rutinitas, aku kembali lagi ke sekolah itu sembari sesekali berucap shalawat atau tasbih-tasbihan. Karena ini hari Sabtu, aku tahu bahwa mereka (siswa-siswi sekolah itu) mengadakan apel pagi, sehingga aku sengaja meneruskan sepeda motor khusus pengangkut sampahku ke pantry—sebutan untuk ruang makan mereka. Selepas apel, seluruh siswa biasanya berkumpul di suatu tempat. Tetapi hari itu nampaknya mereka punya agenda membersihkan asrama. Alhasil, aku pun panen sampah.

Dua kali lipat banyaknya. Sampah yang kudapat hari ini sudah menggunung dan tak muat lagi untuk kuangkut. Akhirnya kuputuskan untuk membawanya terlebih dulu. Tetapi sebelum itu, kusempatkan bertanya pada seorang siswa yang lewat.

“Dek, ini ada apa yah? Kok pada bersih-bersih?”

“Oh mau rolling, Pak. Pindah kamar gitu. Saya saranin, sampahnya itu jangan langsung dibuang. Banyak loh teman-teman buang barang-barang bagus, katanya biar nggak repot angkat banyak-banyak.”

“Oh iya, Dek. Makasih.”

Arsip Cerpen di Indonesia