Di Balik Sebuah Tawa

Akhirnya aku lelah sendiri. Memikirkan hal yang tidak penting juga kuketahui. Sudah pukul dua siang aku tiba di rumah dan anak-anakku sedang tertidur pulas. Giliran isteriku pamit bekerja di rumah Pak Badi—sekretaris desa. Biasanya isteriku dipanggil kalau isteri Pak Badi terlalu sibuk dan tak sempat menyetrika pakaian. Jadilah aku sendiri di beranda sembari membolak-balikkan koran yang kuamankan sewaktu memulung tadi.

Tiba-tiba saja, dari arah barat, Lilis datang dengan langkah yang tangkas—setengah berlari tepatnya. Sesekali kulihat dia mengusap pipinya. Barulah kemudian kutahu bahwa dia menangis, ketika telah sampai di muka rumah.

“Ada apa, Lis? Datang-datang kok nangis?”

Lilis tidak menggubris pertanyaanku. Dia malah menyelonong ke kamar sembari membanting pintu masuk. Aku tersentak. Kulihat adik-adik Lilis juga terbangun karenanya.

“Kenapa Lis? Kamu ini kenapa, Nak?”

Lilis bukannya menjawab pertanyaanku, malah membuka bajunya tanpa kuduga-duga. Sehingga, di hadapanku kini terlihat jelas lekuk tubuhnya yang hanya ditutupi celana dan kutang yang menutupi buah dadanya.

“Astagfirullah, kamu ngapain Lis?! Sudah gila apa?!”

“Bapak yang gila!! Bapak tahu tidak? Baju yang Bapak kasih Lilis ini, adalah baju kakak teman sekelompok Lilis yang sekolah di asrama itu! Lilis malu, Pak! Malu!” bentaknya sambil tersedu. Beberapa kali kalimatnya harus terpenggal karena isak.

Hatiku pun tercabik-cabik. Sekarang aku mengerti, arti dari tawa anak-anak remaja di sekolah berasrama tadi.

 

Dwi Rezki Fauziah menyukai menulis dan beberapa karyanya telah terbit di sejumlah media.

Arsip Cerpen di Indonesia