Mendengar itu, aku sengaja memilih rute yang melewati rumahku dalam perjalanan menuju tempat pembuangan. Tiba di rumah, aku langsung membongkar muatan. Kupanggil isteriku yang sedang menyapu halaman. Bersamanya, kucari barang-barang layak pakai. Dan benar saja. Mulai dari alat tulis, hingga perlengkapan sehari-hari semuanya oke. Terlebih beberapa pasang baju dalam satu kresek ini. Masih utuh, dan tiada sobek maupun benang yang menjuntai sama sekali. Menatapnya, aku merasa mereka seakan memohon padaku untuk tidak dibuang. Mereka tak terima diterlantarkan padahal dalam keadaan baik-baik saja. Pun mereka sepertinya ingin kembali digunakan sebagaimana mestinya.
“Baiklah barang-barang buangan, sekarang kalian punya tuan baru,” sumringahku dalam gumaman pelan.
***
Hujan semalaman membuat pakaian yang dicuci isteriku lembab dan tak dapat kukenakan. Anak-anakku juga begitu. Sehingga, kami memutuskan memakai pakaian yang didapat kemarin. Aku pakai bekerja. Lilis pakai ke rumah temannya—kerja kelompok. Sedangkan isteri dan dua anakku memakainya di rumah saja. Kebetulan sekali, baju yang kupakai ini persis dengan yang dipakai Lilis. Baju merah marun, dengan tulisan putih Social One di depannya. Aku dan Lilis memang sama bodi. Akhirnya, kami pun berangkat ke tempat tujuan masing-masing.
Aku ingat lagi, bila hari Minggu—hari libur anak sekolah, di pagi ketika aku biasa datang, para siswa yang notabene remaja ini akan ramai berkumpul di pantry untuk sarapan. Waktu aku datang, biasanya para siswa itu acuh tak acuh saja, tapi kali ini rasa-rasanya berbeda. Mereka jadi banyak tertawa. Entah karena hari ini mereka mendapat banyak kesenangan, atau karena aku. Tetapi, sedikit pun aku tidak merasa ada yang lucu dari diriku. Jadi, kuputuskan untuk tak hirau dengan tawa mereka.
Sebenarnya aku juga sedikit penasaran. Pasalnya bisa kulihat jelas dari spion, mereka tampak menatapku yang menjauh, kemudian berbisik-bisik, lalu tertawa lagi. Bahkan sempat tertangkap mataku, seorang tampak mengambil gambarku lalu menyembunyikan handphone-nya. Ah, ada-ada saja anak-anak ini. Aku kan bukan pertama kali mereka temui. Apa sebenarnya yang mereka hebohkan? Bahkan sampai aku berjarak ratusan meter dari mereka, masih jelas kudengar tawa mereka. Di kepalaku, mereka pasti sambil terpingkal-pingkal. Kalau tidak, mana mungkin tawanya meledak ke mana-mana.