Infus

“Hey… kalian komunis ya? Kenapa saya ditalian seperti ini, ayo lepaskan!” semakin aku  meronta, rantai yang mengikat tanganku semakin kuat.

Dan aku kini berada di penjara, bukan di kantor polisi, entah di mana. Dengan tangan diborgol, aku menghampiri petugas.

“Kenapa saya ada di sini, Pak?”

Tak ada yang menjawab, sunyi, suara air hujan terdengar, itu pasti air hujan, suaranya begitu jelas.

***

TEMAN-TEMANKU satu per satu berdatangan menengkokku, seperti daun yang merindukan angin.

“Bapak dari pemerintahan, ya?” tanya wanita berpakaian putih-putih

“Bukan, saya wartawan!”

“Wah, wartawan baladnya Aher ya,” tanyanya lagi

“Bukan, saya tidak suka Aher, ini calon pemimpin saya,” kataku seraya menunjuk Sapei, sahabat saya.

“Ha ha ha  maneh ngalongok uing…,” teriakku pada seorang kawan.

“Nah… ini calon istriku yang keempat…,” teriakku pada perempuan tua yang entah siapa namanya.

“Tah… kalau ini suka lacur ya,” kawanku Beni kena semprot, aku seperti gila, dengan dua tangan terikat rantai, dan bibirku terus meracau tak keruan.

“I love yu, Iyen…” bisikku pada gadis cantik berkulit putih, ia adalah Iyen, anggota komunitasku yang sudah kuanggap anak.

Seseorang berpakaian kumal datang dan berbisik.

“Don.. masih inget saya, Priston. Si Firman bikin lagu bagus, geura dengekeun ku maneh,” katanya. Aku hanya tertawa. Kawan kawan yang menengokku dalam penjara sudah berkumpul. Wartawan dari berbagai media juga nampak berebut ingin mangabadikan aku sedang gila, benar-benar gila.

Baca juga: Tragedi-tragedi di Tramway – Oleh Bernando J Sujibto (Pikiran Rakyat, 04 Februari 2018)

Beberapa saat kemudian, tiga wanita cantik menghampiriku, lalu mereka buka baju, menari lagu india. Aku tak peduli, tiga wanita itu terus meliukkan badan penuh birahi, seksi. Lalu hilang menjadi asap, sementara kawan-kawanku dan wartawan masih setia menunggu.

“Ia sudah mati, kita harus menerima kenyataan, ayo baca Alfatihah,” bisik Sopiah, seorang wanita beranak tiga, tangannya menunjuk padaku. Anakku marah, ia marah dan bicara lantang.

Arsip Cerpen di Indonesia