Infus

Baca juga: Perbincangan dengan Buku-buku – Cerpen A Fryansyna (Pikiran Rakyat, 18 Februari 2018)

Tiba-tiba datang tiga wanita cantik lagi, kali ini berpakaian suster. Mereka tetap menari, kali ini lebih lembut, tak lagi seksi. Sambil mengucap alhamdulilah, ketiga wanita itu tersenyum.

 

selang-selang infus saling tatap

air yang ngeclak di dalamnya

seperti gerimis

iramanya orkestra kematian

 

ruang iccu ini merawat sepi

tembok kamar saling menuding

saling memantulkan cahaya

aku beringsut ke tepi ranjang

tapi tanganku diborgol

kepalaku dihantam palu godam;

hitam

***

HUJAN pagi hari, mengguyur bumi, tiga wanita itu sudah tak ada, Adi juga, tinggal istriku.

“Pa, bapak ada di rumah sakit ini sudah enam hari, sekarang sembuh, harus sembuh,” bisiknya.

Aku mengangguk, aku mengerti. Istriku membelai kepalaku penuh kasih sayang. Dua tetes air matanya menetes di keningku.

“Alhamdulilah… kita pulang besok, Pak,” bisiknya lagi.

 

menemukan tuhan

di setiap kabel infus

ia menjadi cairan o2

respirasi di antara kulit, nadi dan darah

senyumnya ramah. ***

 

Bandung, Juli 2016

Arsip Cerpen di Indonesia