Baca juga: Dari Jendela di Cuaca yang Cerah – Cerpen Bayu Pratama (Pikiran Rakyat, 11 Februari 2018)
“Ia belum mati, itu Bapakku, ia masih hidup, jangan mendahului takdir Tuhan,” katanya seraya menghampiriku, tapi malah aku tampar.
***
ENAM hari aku berada dalam penjara.
Jam 3 subuh sekarang, lapat-lapat terdengar suara adzan, lapat-lapat pula terdengar doa-doa lirih dari ratusan orang, datang dari gedung YPK, dari masjid-masjid, dari rumah dan dari seorang wanita yang kini duduk di sampingku, Neni Istriku.
“Bu… di mana ini?” tanyaku.
Tak ada jawaban, kecuali surat Arrohman mengalun lembut dari bibirnya. Perlahan mataku menyapa dinding sekeliling. Tanganku sudah tidak diikat rantai, tapi kabel-kabel infus menelikung tubuhku, masuk ke hidung, teliga dan mulut.
Kabel-kabel itu menelikung tubuhku
masuk ke hidung, mulut, qubul dan dubur
ratusan malaikat sembunyi di sana
siap mengantarku ke liang lahat
ratusan bidadari menari
menawarkan anggur
pantat dan bibir mereka menggoda
tapi kabel-kabel itu makin sepeti beton atau terali besi
cairan entah apa namanya menetes pelan-pelan
meresap ke jantungku, ke darahku, ke otakku, ke ajalku
enam abad aku tenggelam dalam kemesraan maut
Mencoba bangkit tapi tak bisa, Adi keponakannku mencoba menenangkanku.
“Mang… emut, Mang,” katanya.
“Adi… mana uang hadiah saya” tanyaku.
“Ada Mang… santai,” katanya agak kikuk.
“Oh siap atuh, ari ieu di mana Di?”
“Di rumah sakit Mang… sudah enam Hari.”