Kain Batik Ibu

“Kalau bukan anak terakhir, kamu pasti juga pergi dari rumah. Lagipula di desa ada apa, Ton? Aku nggak bisa lama-lama di sini.” Begitu jawaban Mbak Galuh saat kuminta dia tinggal lebih lama. Menemani Ibu yang jelas sedang berduka.

“Kalau kamu anak terakhir sepertiku, apa kamu akan tetap tinggal?”

“Apa?” Mbak Galuh menikam pandanganku.

“Ini bukan pilihan, Mbak. Ibu bukan opsi terakhir.”

Bapak tidak meninggalkan apa pun, selain rumah kecil yang kutempati bersama Ibu. Juga kain batik panjang itu. Ingatanku tentang Bapak tidak banyak, lantaran Bapak lebih sering menghabiskan waktu di langgar. Yang aku ingat hanya suara khasnya saat menyanyikan lagu sekar gambuh.

Lagu yang kental aroma tubuh Bapak, saking sering dia nyanyikan. Satu kesalahan Bapak, tidak pernah mengajak serta anak-anaknya ke langgar. Karena itulah, untuk pulang ke pangkuan Ibu pun mereka enggan.

Ibu selalu mengusap-usap batik peninggalan Bapak sambil lirih mendendangkan sekar gambuh yang seolah-olah menjadi melodi sakral di rumah ini. Aku tidak tahu apakah masih punya cukup daya untuk menyanyikan esok jika Ibu juga tiada.

Kehilangan Bapak seolah-olah kehilangan udara bagi Ibu. Lemas dan lusuh. Tidak ada yang mampu membangkitkan semangat Ibu, kecuali kain batik itu. Aku tidak kesal, juga tidak iba. Aku hanya kecewa, tak mampu menggantikan posisi kain batik itu di hati Ibu, yang menguras pikiran dan waktu begitu banyak.

***

Siang itu, aku melihat Ibu murung sekali. Namun tidak kutanya mengapa. Pemandangan macam itu sudah biasa bagiku. Ibu lupa bagaimana cara tersenyum dan aku bukan pengajar yang baik, yang bisa menunjukkan kepada Ibu bagaimana cara terbaik untuk tersenyum. Aku mengabaikannya.

Namun begitu mendengar suara kain robek, sontak aku berlari menghampiri Ibu yang berkutat di kamar. Benar! Aku tahu penyebab kemurungan Ibu sekarang.

“Siapa yang meminta?”

Ibu tidak berani menatapku. Tangannya masih merobek kain batik peninggalan Bapak seolah-olah merobek ulu hatinya. Perih, penuh darah.

“Bu! Siapa yang meminta?”

“Mbakyumu butuh kain untuk pergi makan malam.”

“Hanya untuk makan malam dia meminta?” Aku memicingkan mata tak percaya.

“Kamu kan tahu, rekan suami mbakyumu pejabat.”

“Persetan! Duit suaminya sudah banyak! Buat apa dia minta kain!”

Ibu berhenti merobek kain itu dan menatapku tajam, tetapi penuh kasih sayang. “Ton, jangan begitu. Kalau kamu juga butuh, Ibu siap merobek lagi.”

Mana mungkin aku merobek hati Ibu? Aku tidak sekejam itu.

***

Arsip Cerpen di Indonesia