Kain Batik Ibu

“Harusnya kamu malu, Kang! Pulang tidak pernah. Sekali datang kayak orang mau nagih utang!”

Kang Danang geram dan menggamparku sampai tersungkur. Aku bangkit sebelum gamparan kedua melayang ke wajahku. Aku berhasil menghindar.

“Dia ibu kita, Kang. Kok Kang Danang tega!”

“Diam kamu, Ton! Aku tahu kamu cuma mau kain itu kan?!”

“Aku tidak sepicik kalian!”

Satu pukulan dapat kutangkis, tetapi pukulan tangan lain begitu cepat sehingga membuatku tersungkur. Awalnya kukira aku tak apa-apa. Namun kurasakan pelipisku berdarah. Keningku nyeri dan berdenyut hebat.

Kami menangkap mata Ibu yang memburu tatap Kang Danang. Tanpa kami sadari, satu tamparan keras Ibu membuat pipi Kang Danang merah. Rumah kami ramai; pembuktian betapa berharga kain itu hingga bisa membuat anak-anak Ibu beringas.

“Jangan, Bu.”

“Keningmu berdarah,” ucap Ibu sambil mengikatkan kain batik jatah Kang Danang ke keningku. Ibu mendekapku erat. “Kita ke dokter sekarang.”

“Bu?” Mas Danang menatap Ibu kebingungan.

Ibu membantuku berdiri dan menitahku, kemudian menatap tegas mata Kang Danang. “Pulang!” (44)

 

Rahmy Madina, alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Kini, dia bekerja dan berdomisili di Sawangan, Depok, Jawa Barat.

Arsip Cerpen di Indonesia