Kain Batik Ibu

Dua hari setelah perobekan kain itu untuk kali pertama, telepon kembali berdering. Agaknya kabar Ibu telah merobek kain itu sudah menyebar. Aku mengangkat sambil bersiap menyerang lewat umpat. Persetan dengan silsilah. Aku siap melawan siapa pun yang tega mencabik hati ibuku. Bahkan aku siap menebas pohon silsilah jika ternyata abangku yang melakukan.

“Mau apa?”

“Mana Ibu?”

Nggak ada!”

“Jangan bohong! Mana Ibu?”

“Nggak ada!” Nadaku meninggi.

“Ton! Mana Ibu!”

Nggak….”

Aku berhenti bicara ketika Ibu menepuk pundakku lembut, kemudian menatapku sambil menggeleng. Ibu memintaku tidak meneruskan, lalu meraih gagang telepon dariku.

“Ada apa, Nang?”

“Bu, aku juga mau kain batik Bapak. Sama kayak Mbak Sari.”

“Untuk apa?”

“Untuk sarimbit aku, istri, dan anakku.”

“Ya sudah, Ibu potongkan. Nggak perlu marah-marah.”

“Ya sudah. Nanti sore aku ambil. Ibu di rumah saja.”

Ibu menutup telepon, kemudian menatap aku yang masih naik pitam seraya menatap Ibu dengan perasaan tak keruan.

“Bu, jangan….”

Ibu menoleh, menghampiri dan menekap pipiku dengan sebelah tangan. “Lembutkan hatimu, Nak.”

***

Plaaak! Satu pukulan keras tangan Kang Danang mendarat di pelipisku. Namun aku bertahan. Sebanyak apa pun tempelengan, aku terima asal hati Ibu utuh!

Ibu sedang menjemur nasi di dekat kebun Wak Hanun sambil menenteng robekan kain batik untuk Kang Danang. Dia belum kembali saat Kang Danang datang dan menanyakan di mana Ibu dengan mata memicing seolah menagih utang. Mereka memang anak-anak sialan!

“Kain itu milik Ibu!”

“Jangan serakah!”

Arsip Cerpen di Indonesia