Maria dan Toko Baju

Sayang, selera berbanding terbalik dengan kebiasaan Maria. Apa yang mendasari ia membeli baju dan gaun dan selendang yang lebih banyak tidak berguna? Sesekali saya lihat ia memakai barang yang ia beli dari toko saya, tetapi lebih banyak barang yang justru seolah-olah ia beli untuk dikubur di suatu tempat di rumahnya.

Saya sering menyimpan kecurigaan. Maria kemari untuk pamer pada tetangga yang sombong. Toko baju saya bukan toko kecil. Cukup besar dan tidak ada kaum urban yang tidak kenal toko saya. Paper bag kami—yang saya dengar sering dipakai orang untuk lambang gengsi, karena toko saya menjual sandang kelas menengah ke atas—barangkali menjadi senjata ampuh untuk memukul telak orang sombong itu. Kalau memang begitu, sungguh aneh dan saya jadi kasihan pada Maria. Kenapa membalas kelakuan sombong orang dengan cara yang merugikan?

Tapi, yah, sekali lagi, itu kecurigaan tanpa dasar. Saya tidak tahu. Mungkin Maria punya alasan lain di balik kebiasaan anehnya pergi ke toko baju saya tanpa ada tujuan yang jelas. Ia hanyalah buruh pemintal benang dengan gaji kecil. Meski hidup sebatang kara—dan mungkin saja ia punya uang tabungan yang cukup besar atau bahkan uang warisan dari orangtuanya yang sudah meninggal?—saya sulit menerima betapa uang itu bakal habis pada saatnya nanti hanya demi sesuatu yang tidak berguna bagi perempuan ini. Paling tidak, kalau ia mengenakan semua gaun atau baju atau selendang yang ia beli, bukankah tidak ada yang sia-sia?

Baca juga: Sepulang dari Penjara – Cerpen Ken Hanggara (Solo Pos, 03 Juni 2018) 

Ketika Maria datang ke toko dan hanya mengobrol dengan pegawai saya yang suka bicara itu, ia lebih banyak membahas soal pekerjaan di pabrik. Tidak ada masalah; yang Maria bicarakan lelucon-lelucon konyol penjaga keamanan di pintu gerbang pabrik itu, serta buruh-buruh lelaki yang sering mengiriminya surat cinta. Saya sadar, Maria yang cantik, kerja di pabrik begitu, pastilah banyak yang tertarik pada dirinya.

Menurut saya, Maria malah tidak cocok kerja di pabrik benang itu, meski memintal benang tidak membuatnya mati. Ia bergaji rendah, karena kota kami penghasil benang terbesar di negeri ini. Memang aneh. Semakin banyak benang, semakin kecil orang mau menghargai jerih payah proses terjadinya suatu benda paling mendasar dalam peradaban manusia itu. Bayangkan saja di dunia ini tidak ada benang. Saya jadi ingat sebuah film tentang seekor tikus yang mengacau dua orang pewaris pabrik benang yang nyaris bangkrut. Akhirnya mereka berinisiatif merombak pabrik tersebut menjadi pabrik keju. Tentu saja, keju lebih mahal dari benang.

Arsip Cerpen di Indonesia