Maria dan Toko Baju

Tapi, sejak itu, seiring dengan kunjungan demi kunjungan Maria ke toko baju saya, saya tidak bisa menepis berbagai pikiran soal dia. Bisa saja saya abaikan Maria, karena ia sebatas pelanggan, bukan pencuri baju mahal di rak kami—terutama, ia juga bukan pelacur (saya sempat mencemaskan kemungkinan yang satu ini). Dan Maria membayar. Saya dapat uang. Saya dapat laba. Harusnya, saya memang diam. Bukankah saya yang mujur? Dapat pelanggan seloyal Maria bukan hal gampang di kota kami.

Ada dua toko baju bergengsi lain. Kami selalu bersaing ketat dalam soal promosi dan terobosan. Pabrik-pabrik benang yang menyuplai untuk rumah produksi toko-toko ini—karena berjumlah tujuh pabrik—bersaing menawarkan harga termurah dengan laba yang sekiranya masih bisa menutup ongkos produksi dan gaji para buruh mereka yang kecil, serta tentu saja laba bersih bagi para pemiliknya.

Baca juga: Penjual Mata – Cerpen Ken Hanggara (Kedaulatan Rakyat, 28 Januari 2018) 

Alangkah banyak persaingan di dunia ini; saya paham itu. Tetapi, bagi Maria, yang terjadi di antara para pabrik dan toko-toko baju ini, segalanya seperti bukan urusannya. Maria hanya tahu ia harus pergi ke salah satu toko tersebut-toko saya—dan memilih sandang yang kiranya ia sukai dan bisa dibawa pulang dengan uang yang tersedia dalam dompet. Ya, sepertinya, pergi ke toko baju adalah keharusan baginya.

Maria seperti tidak memusingkan bahwa benang yang ia kerjakan di pabrik adalah asal-muasal dari berbagai produk yang dijual di toko saya. Barang yang ia beli, berasal dari pekerjaan tangannya pada suatu waktu entah kapan. Maria seperti memiliki dunia sendiri dan menikmati membeli segala sandang kelas menengah di toko saya, ber-paper bag mencolok sehingga bisa untuk pamer, tanpa harus memakai baju atau gaunnya.

Sejauh ini, saya tidak tahu untuk apa ia selalu belanja, tetapi suatu hari ketika saya mulai menyapanya, saya tahu, Maria tidak akan berhenti ke toko baju saya, kalau-kalau tidak kelepasan mengatakan betapa sesungguhnya ia datang bukan untuk baju-baju itu, tetapi untuk saya, yang diam-diam ia sukai tanpa berani berbuat lancang. Dan sejak itu, ia tidak pernah kelihatan kemari. Setiap sore, saya menunggu. Tapi, ia tidak lagi datang. Kabarnya, Maria pergi ke tempat yang jauh dan tak kembali.

 

Gempol, 2016-2018

Ken Hanggara lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media cetak/online. Bukunya: Museum Anomali (Unsa Press, 2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), dan Negeri yang Dilanda Huru-Hara (Basabasi, 2018).

Arsip Cerpen di Indonesia