Sayangnya, Maria bukan perempuan pemintal keju; ia masihlah pemintal benang. Setiap hari, dari pukul enam pagi hingga pukul lima belas sore, ia memintal benang dan sepulang dari pabrik, segera menuju toko baju saya untuk belanja atau sekadar ngobrol. Gajinya yang kecil entah dikumpulkan dan dimanajemen dengan metode apa; ia tidak terbukti menderita kelaparan. Ia selalu bugar dan, walaupun langsing, tampak sekali di matanya, kecerahan bola mata itu, bahwa Maria tidak pernah kekurangan gizi.
Saya bertanya kepada pegawai yang kenal dekat dengan Maria itu. Saya mencoba sewajar mungkin, agar tidak terlihat kalau saya terlalu memperhatikan Maria seakan gadis itu anak saya, atau seakan gadis itu pujaan hati saya yang baru, di luar istri yang setiap malam selalu saya puja-puja karena dia cantik. Saya tidak mau menambah kacau pikiran. Soal Maria saja sudah bikin pusing, apalagi bila istri salah paham. Saya tidak punya perasaan apa pun pada Maria. Saya hanya penasaran.
Pegawai saya bilang, Maria memang aneh. Ia sendiri tidak tahu kenapa dan untuk apa Maria belanja baju begitu banyak. Sudah dua tahun lebih, sejak ia bekerja di pabrik benang sebagai salah satu pemintalnya, ia datang ke toko saya. Pada mulanya, saya kira ia pelanggan biasa yang datang dan kemudian pergi—kami tak akan mungkin bertemu di lain kesempatan, sampai kiamat. Tetapi, dua kali, tiga kali, hingga kunjungan yang keempat, Maria membuat saya berpikir lain.
Baca juga: Legenda Sumar Mesem – Cerpen Ken Hanggara (Radar Bromo, 08 April 2018)
Siapa itu, tanya saya pada pegawai tersebut. Buruh pemintal benang di pabrik yang dekat bioskop, Tuan, katanya. Saya tidak tahu, bagaimana toko baju saya bisa dimasuki buruh bergaji rendah? Bukan meremehkan, cuma tidak paham dari mana ia dapat uang sebanyak itu?
Pegawai saya menyimpan pertanyaan yang sama. Kami mulai suka membicarakan Maria jika toko sepi pada pukul sepuluh malam. Tidak ada pelanggan lain yang lebih menarik darinya. Perempuan pemintal benang yang cantik dan bergaji kecil pergi ke toko baju dan rutin membeli koleksi kami paling tidak seminggu sekali. Itu bukan hal biasa.
Kami berhenti membicarakan Maria—saya seolah dapat teguran atau pertanda dari langit bahwa saya memang harus berhenti kali itu—ketika perempuan itu bilang kepada pegawai saya, “Saya bukan pencuri atau pelacur, Nona. Ini uang halal.”
Maria tersenyum tulus waktu mengatakan itu. Saya pun beranggapan bahwa Maria mungkin punya uang tabungan atau harta warisan yang cukup banyak dari orang tuanya yang meninggal. Informasi tentang ia yang sebatang kara tidak salah. Pegawai saya itu mendengar pengakuan Maria bahwa orangtuanya meninggal beberapa tahun lalu karena kecelakaan.