Semilir Angin Pagi

Jessica mencoba memejamkan matanya, ingin tidur agar beban yang dirasakan bisa hilang. Tapi ketika matanya dipejamkan berulangkali tetap tak bisa tidur. Jessica pun mendesah panjang. Pertemuannya dengan Pras di kantin kampus beberapa hari lalu kembali hinggap di kepalanya.

“Kenapa kamu sendirian, Jess?” tanya Pras yang tiba-tiba sudah berada di dekat Jessica.

“Adakah yang aneh jika aku sendirian?” jawab Jessica dengan entengnya.

“Biasanya kan kamu sama Hendrias?”

“Ah, kamu sok tahu saja.”

“Ada masalah, ya?”

“Nggak. Hendrias baru menghadap Dosen.”

Pras diam sesaat. Jessica dipandang sekilas. “Jess, mau nggak aku bilangin sesuatu. Tapi jangan kaget ya,” katanya kemudian dengan mimik serius.

“Cerita apa?” Jessica agak penasaran.

“Tapi janji jangan marah.”

Jessica mengangguk pelan.

“Kemarin aku sama Hendrias kan janjian nonton film. Saat aku datang di rumahnya, aku amat terkejut begitu melihat Hendrias sedang berduaan dengan seorang cewek cantik. Mesra sekali.”

“Apa?!” hanya kata itu yang keluar dari bibir Jessica. Dadanya seketika terasa sesak sekali dan kepalanya terasa berat.

“Jess, kenapa kamu hanya di dalam kamar terus. Ayo keluar sebentar anak manis.”

Jessica seketika dibuat kaget begitu mendengar panggilan dari Mamanya. Lamunannya pun jadi hancur. Dan dengan malas-malasan ia bangun dan kemudian menghampiri Mamanya.

“Ada apa, Ma?” tanyanya kemudian.

“Ada yang mencari kamu,” kata Mama pelan sambil tangannya membelai rambut putri kesayangannya.

“Siapa, Ma?”

“Hendrias,” Mama tersenyum. “Cepat ditemuin sana.”

“Males, Ma,” kata Jessica senewen.

“Bilang aja aku nggak ada, Ma.”

Mama diam sesaat. Putri satu-satunya yang berada di depannya itu ditatap tajam. “Males? Kenapa, sayang?” katanya kemudian dengan setumpuk pertanyaan. Tidak tahu apa yang dipikirkan Jessica.

“Pokoknya males.”

Arsip Cerpen di Indonesia