“Lagi berantem ya?” goda Mama.
Jessica diam, tak menjawab.
“Jess, cepat ditemuin sana. Jessica kan bukan anak kecil lagi. Jika ada masalah kan bisa diselesaikan dengan baik-baik.”
Tanpa bersuara Jessica pun meninggalkan Mamanya. Menemui Hendrias yang sudah menunggu di ruang tamu.
“Pagi, Jess,” sapa Hendrias begitu Jessica muncul di ruang tamu.
“Pagi,” Jessica terdengar agak ketus.
Hendrias diam dan agak kaget mendengar jawaban Jessica seperti itu. Sesaat kemudian Hendrias menatap Jessica lekat-lekat, meski hatinya bertanya sendiri mengetahui sikap Jessica yang berubah belakangan ini.
“Hen, kamu ke sini apa nggak kesasar? Hari Minggu yang indah seperti ini kan lebih berharga kamu gunakan untuk jalan-jalan bareng cewek itu,” kata Jessica lagi.
Hendrias masih terdiam. Sesekali menarik nafas panjang.
“Kenapa hanya diam saja?”
Hendrias masih belum buka suara.
Jessica tersenyum tipis. “Ayo jawab!”
“Jess, boleh aku omong?” terdengar suara Hendrias lirih. Raut wajahnya terlihat serius.
“Kenapa nggak boleh?!”
“Aku hanya ingin bertanya kepadamu. Mengapa sikapmu akhir-akhir ini berubah dan sepertinya selalu menghindar dariku?”
“Hen, kenapa pertanyaanmu seperti itu? Masalahnya kan sudah jelas. Kamu jangan berlagak bodoh.”
“Masalah apa?”
Jessica terdiam. Kepalanya menunduk. Bibirnya tiba-tiba saja seperti terkunci rapat, tak bisa berkata lagi. Dadanya berguncang. Apa rasa cemburunya akan dikatakan pada Hendrias?
Hendrias pun lalu diam. Matanya tak henti-hentinya memandangi Jessica yang sekarang duduk di hadapannya. Hendrias sebenarnya tahu apa yang tengah dirasakan oleh Jessica. Hendrias tahu kalau Jessica sedang dilanda rasa cemburu yang tanpa alasan. Itu diketahui Hendrias setelah kemarin sore Pras bilang pernah memberi kabar bahwa Hendrias pernah bersama seorang cewek cantik.
“Apa karena cewek itu?” kata Hendrias kemudian terdengar lembut.
Mendengar kata-kata Hendrias seperti itu menjadikan dada Jessica semakin terasa sesak. Kepalanya masih menunduk, tanpa reaksi. Tapi tak lama kemudian Jessica mengangkat kepalanya. Hendrias ditatap lekat-lekat.
“Apa karena cewek itu?” kata Hendrias dengan sorot mata tajam. Sorot mata yang punya kekuatan lebih. Tapi tidak begitu dengan Jessica, melihat sorot mata itu entah mengapa dirinya seakan tak berdaya.
“Jess, aku hanya sayang kamu.”
“Tapi cewek itu siapa? Apa hubungannya dengan kamu?” kata Jessica terdengar pelan sekali, nyaris tak terdengar.
Hendrias kini tersenyum. Lalu menceritakan siapa cewek yang beberapa waktu lalu bersama dirinya dan menjadikan Jessica cemburu. Cewek itu adalah Mayestika, anak dari pamannya yang tinggal di Jakarta yang kebetulan ingin liburan di Solo, kota tempat tinggal Hendrias.
“Jess, sekarang tinggal kamu percaya apa nggak,” kata Hendrias.