Dajjal di Kampung Surga

Julukan Kampung Surga kali pertama diberikan oleh seorang peneliti dari Departeman Agama yang sedang meneliti kehidupan keagamaan di dusun terpencil itu. Dalam laporannya, si peneliti menyimpulkan denyut gairah keberagamaan di dusun itu tidak bisa dilepaskan dari peran besar seorang tokoh karismatik, Haji Darmaji.

Haji Darmaji adalah lelaki berusia menjelang enam puluh. Ia bukan warga asli dusun itu. Pada usia dua puluhan akhir, ia datang dari sebuah pesantren di luar pulau (yang tak terlalu dikenal) sebagai pendakwah. Tiga tahun setelah kedatangannya, ia menikah dengan gadis setempat dan memutuskan menetap di sana.

***

Beberapa hari sejak kemunculan Kunti yang menggemparkan, misteri mengenai Kunti yang menghilang selama delapan bulan sebelumnya dan juga mengenai si bayi tidak juga terpecahkan. Kunti bungkam seperti orang hilang akal. Orang-orang pun menganggap ia sudah benar-benar gila dan bersepakat membawanya ke rumah sakit jiwa. Namun Hajah Kunarti, istri Haji Darmaji, mencegah. “Biar aku saja yang merawat Kunti dan bayinya,” katanya ketika itu.

Sebelum menghilang, Kunti tinggal berdua bersama neneknya di sebuah rumah papan sederhana di tenggara dusun, tak jauh dari kediaman Haji Darmaji. Sang nenek meninggal tiga bulan setelah Kunti menghilang. Orang-orang bilang, sang nenek meninggal akibat tekanan batin setelah kehilangan Kunti, cucu satu-satunya.

Setelah Hajah Kunarti mengungkapkan kesediaan merawat Kunti dan bayinya, atas permintaan Haji Darmaji, Kunti dan bayinya tetap tinggal di rumah yang dulu ia tinggali bersama sang nenek. Bukan dibawa ke rumah Haji Darmaji. Atas permintaan Haji Darmaji pula, kasus itu tidak dilaporkan ke polisi.

“Untuk menghindari fitnah dan kehebohan. Kasihan Kunti,” jawab Haji Darmaji ketika ditanya alasannya.

Hajah Kunarti pun kemudian lebih sering berada di rumah Kunti ketimbang di rumahnya. Karena jarak yang dekat, ia tidak mempersoalkan hal itu.

Tiga hari setelah Hajah Kunarti memutuskan merawat Kunti dan bayinya, timbul kehebohan baru yang tak kalah dahsyat dari kemunculan ajaib Kunti beberapa hari sebelumnya. Hari itu, Hajah Kunarti membelalak tanpa suara, menyadari si bayi dalam gendongannya hanya memiliki satu mata.

Ketika kali pertama mendengar hal itu dari sang istri, Haji Darmaji dengan raut muka sulit dijelaskan, hanya berkomentar singkat dan pelan, dengan suara bergetar pula, “Daj-jal….”

Arsip Cerpen di Indonesia