Komentar itu menimbulkan pertengkaran di antara Haji Darmaji dan Hajah Kunarti, sebelum Hajah Kunarti kembali ke rumah Kunti, dan mendapati Kunti menimang sang bayi sambil menyebut-nyebut sebuah nama, “Isa…. Isa….”
Maka jadilah, sejak hari itu, anak Kunti bernama Isa. Kunti pun berangsur-angsur bersikap normal, meski tetap bungkam soal peristiwa hilangnya ia dan kemunculannya delapan bulan kemudian dengan seorang bayi.
***
Isa telah berusia empat tahun lebih. Ia tumbuh dengan keengganan dan komentar-komentar tidak mengenakkan dari orang-orang di sekitarnya.
“Matanya satu, rambutnya keriting, sesuai dengan ciri dajjal.”
“Semua bayi menangis saat dilahirkan karena disentuh setan. Kalian tentu ingat, anak Kunti bahkan sama sekali tidak bersuara ketika itu. Ia tidak menangis, sebab setan yang menyentuh ketika ia lahir tak lain adalah temannya.”
“Entah bagaimana si dajjal itu sampai diberi nama Isa. Dalam salah satu hadis, Nabi Isa disebut sebagai sosok yang akan membunuh dajjal pada akhir zaman. Menamai anak Kunti dengan Isa adalah penistaan terhadap Nabi Isa!”
“Barangkali, dulu Kunti dihamili jin kafir….”
Komentar-komentar itu bermunculan dan terus menyebar dari bisik ke bisik. Orang-orang tidak pernah secara langsung menyampaikan komentar-komentar itu kepada Kunti. Mereka bahkan selalu berusaha menghindar melihat Kunti dan anaknya. Jika terpaksa berpapasan dengan Kunti di jalan atau tidak sengaja melihat Isa kecil bermain di halaman rumah, mereka merasa jeri dan segera pergi.
Di luar komentar dan perlakuan buruk mereka kepada Kunti dan Isa, warga Kampung Surga tetaplah warga yang giat beribadah. Musala tetap ramai saat salat berjamaah. Salat mereka tetap khusyuk, sebelum pada suatu malam, sesuatu mengganggu kekhusyukan itu.
Ketika itu, salat isya telah sampai pada rakaat kedua. Kundori tengah menunduk khidmat di saf kedua, mendengarkan lantunan ayat Alquran yang dibacakan Haji Darmaji, ketika seorang anak kecil mengisi ruang kosong di sebelah kanannya dan bertakbir, menjadi makmum masbuk. Kundori, dengan sudut mata, segera mengenali anak kecil di sebelahnya. Dengan keterkejutan luar biasa, spontan ia berteriak, “Dajjal!”
Demi mendengar teriakan Kundori yang tiba-tiba, jamaah salat pun buyar. Hanya Haji Darmaji yang bertahan dengan salatnya, sementara seluruh makmum membatalkan salat dan memandang ngeri ke arah Isa.