Mendapat perlakuan seperti itu, Isa sontak berlari keluar musala. Ia telah sampai rumah ketika Haji Darmaji menyempurnakan salatnya. Di hadapan sang ibu, ia menangis sesenggukan. “Kamu Isa… mereka yang dajjal… merekalah dajjal itu….” Berurai air mata, Kunti membisikkan kata-kata itu.
***
Malam itu Haji Darmaji mengigau. Bibirnya mendesis-desis, “Daj-jal…. Daj… jal….”
Hajah Kunarti yang terbangun begitu mendengar igauan itu. Dia berusaha membangunkan Haji Darmaji. “Pak? Pak?” Dia tepuk-tepuk pundak Haji Darmaji. Sia-sia. Haji Darmaji bertahan dengan igauannya.
Hajah Kunarti tidak tahu, ketika itu Haji Darmaji sedang bermimpi buruk. Dalam mimpi, seseorang menikam perutnya. Seseorang berambut keriting itu, sambil menggenggam pisau yang menusuk lambungnya, menatap dengan mata kiri berurai air mata. Bibir si penikam membisikkan satu kata, “Ayah….” (44)
Bhakti Persada Indah, Dini Hari, 22 Juli 2018
Mazka Hauzan lahir di Cirebon, Desember 1993. Saat ini dia berusaha merampungkan studi S-1 yang telah memasuki tahun keenam di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang.