Darah Daging

Aku ingin memberi salam pada dunia, dengan lengking tangisku sebagai bayi laki-laki sehat, tapi seketika sebuah tangan membungkam mulutku. Kuat-kuat! Bahkan kurasa jemari berkuku tajam mulai mencekikku!

Aku gelagapan, sulit bernapas. Sekedip, aku merasa aneh. Hei, tubuhku seringan kapas, dan…

Dan aku melihat apa yang dilakukan perempuan ranum usai melahirkanku. Ia memotong tali pusar dengan pisau dapur. Masya Allah, lalu ia mengambil celana dalam yang sudah bodol, jelek, yang digunakannya untuk membungkus tubuhku, seperti saat dia membungkus kemaluannya.

Terseok-seok ke luar rumah, lewat pintu belakang. Sore menjelang petang itu hujan turun lebat. Dengan jaket payung butut dia melindungi diri. Tak peduli darah meleleh dari selangkangan, menetes, merah, dia melangkah, gontai menuju sungai di dekat kebun belakang rumah. Sungai sedang meluap banjir, lalu…masya Allah dia membuangku, melemparkanku ke tengah arus deras. Seperti membuang kotoran!

Aku timbul tenggelam dalam pusaran air bah. Hanya Allah yang tahu ke mana air sungai akan mendamparkan!

***

“Dia bukan bayiku?” Perempuan berparas cantik pucat itu menudingku. Benarkah yang bercampur dengan tumpukan sampah, sesuatu mirip gumpalan daging busuk dikerubuti lalat karena baunya bacin menyengat itu…aku?

“Lepaskan aku! Lepaskan!” Ia menjerit histeris saat polisi menangkap. “Mana ada ibu yang tega membunuh darah dagingnya sendiri? Aku bersumpah!”

Perempuan munafik!

“Demi Allah aku tak membunuh bayi itu!” tangis mengiringi.

Jangan bawa nama Allah Maha Suci. Tanpa kau mengakuinya Allah sudah tahu. Allah akan menghukummu di neraka jahanam, perempuan terkutuk!

Baca juga: Lumpur Api (Begenggek) – Cerpen Kartika Catur Pelita (Media Indonesia, 29 April 2018)

Perempuan lesu memilih diam seribu bahasa saat petugas menginterogasi. “Berbulan Mbak tak ke luar rumah. Seorang tetangga mengintip dan melihat perut Mbak tak lagi rata. Lalu, kampung geger karena ditemukan mayat bayi…”

“Bayi itu seharusnya tak usah lahir!” bibir luka itu membuka. Melirih, gumam perih. “Untuk apa dia lahir. Untuk apa…?”

“Seandainya tak menginginkan, bukankah bisa diberikan pada panti asuhan, atau orang yang mau mengadopsi.”

Arsip Cerpen di Indonesia