Darah Daging

Baca juga: Balada Orang-orang Tercinta – Cerpen Kartika Catur Pelita (Republika, 14 Desember 2014)

Cih! Harimau pun tak memangsa anaknya. Tapi, hei kau makhluk berakal, mengapa berbuat nista?

Muak aku memandang lelaki gempal berusia 40-an yang terkerangkeng di dinding kelabu itu. Mual aku melihat perempuan masai meraung-ruang di jalanan.

“Kembalikan anakku, aku tidak bersalah. Aku tidak bersalah. Lepaskan aku. Aku tidak gila. Aku tidak gila…!”

Aku merasa lega. Sungguh beruntung tidak dibesarkan di alam fana yang dihuni orang-orang gila.

Hei…ternyata tidak semuanya begitu. Lihatlah sekumpulan orang sedang membersihkan jasadku, mengafani, menyembahyangi, lalu menguburkan ke tempat yang layak. Terima kasih, Mas, Mbak, Ibu, Bapak, Saudara, semuanya. Allah akan memberi selaksa pahala untuk kalian. Sekarang aku bisa tenang pulang. Terbang menuju jalanku. Hidup di keabadian, berkumpul bersama mereka yang senasib denganku. Hidup di surga, menemani bidadari-bidadari Allah.

 

Kota Ukir, 12 Mei 2018-21 Juli 2018

Kartika Catur Pelita, lahir Januari 1970. Cerpen, esai, dan puisi dimuat di berbagai media massa cetak dan daring. Buku-buku fiksinya, Perjaka, Balada Orang-orang Tercinta, dan Bintang Panjer Sore. Bermukim di Jepara. Bergiat di komunitas Akademi Menulis Jepara.

Arsip Cerpen di Indonesia