“Saya bingung. Saya…saya sangat malu mendapat aib seperti ini.” Ia mulai menangis. Tabir kejujuran menyakitkan terungkap. “Saya hamil, saya belum pernah menikah.”
Peristiwa kelam melintas. Aib yang sangat memalukan! “Laki-laki itu pacar Mbak?” Jawabannya adalah gelengan kepala. Lalu…
Baca juga: Kabut Api – Cerpen Kartika Catur Pelita (Republika, 11 Mei 2014)
“Mbak punya pacar?”
“Dulu. Dua tahun yang lalu.”
“Sekarang?”
“Dia merantau ke Jakarta, tapi tak pernah ada berita. Mungkin telah menikah di sana.”
“Berapa usiamu?’
“18 tahun.”
“Masih sekolah?”
“Setamat SMP saya ingin melanjutkan sekolah. Emak yang kerja jadi TKI di Hongkong siap membiayai. Tapi Bapak tak mengijinkan. Katanya, anak perempuan tak usah sekolah tinggi. Katanya, lebih baik saya mengurus Bapak di rumah.”
“Apakah setelah putus dengan pacarmu, kamu menjalin hubungan dekat dengan laki-laki lain?”
“Tidak, Pak.”
“Maksud saya, misal ada teman laki-laki yang naksir kamu, kamu kan cantik, tapi kamu tak menyukai temanmu itu….”
“Memang ada teman laki-laki yang naksir, tapi saya menolak.”
“Mungkin karena cinta ditolak temanmu dendam. Suatu hari dia datang ke rumahmu. Kebetulan bapakmu sedang di sawah, kamu sendirian di rumah, lalu teman lelakimu itu berbuat laknat. Dia memaksamu…”
“Saya… saya.. diperkosa.” Perempuan luka terbata, bibir menggetar.
“Saya…saya…” Peristiwa nista melintas di netra.
“Siapa yang memerkosamu? Teman, kenalan baru di facebook?”
“Saya diperkosa…saya d iperkosa setan, genderuwo!”
***
Bukan hanya seisi ruangan, tapi aku yang melintas pun terperanjat. Ternyata aku adalah hasil persetubuhan terlarang? Jadi, aku anak incest?
“Istri saya TKW di Hongkong. Saya kesepian, saya khilaf dan melakukannya pada Tumi, Anak kandung saya….”