Di Bawah Pohon Mahoni

Aku sebenarnya ingin bertanya padanya, namun rasa takut mencegah. Aku hanya berani bertanya kepada kepala dapur rumah sakit jiwa, dan jawabannya membuatku terhenyak.

“Yang berteriak-teriak itu istrinya. Istrinya gila, dirawat di sini. Kepala mengizinkannya tinggal sekaligus menemani istrinya dengan memberinya pekerjaan membersihkan gedung dan taman.”

Aku menelan ludah. Amboi, alangkah romantisnya.

Sore yang sama berikutnya, aku masih melihat lelaki itu menyapu di taman. Aku pun masih duduk di bangku di bawah pohon mahoni yang digunakan untuk duduk-duduk pasien yang setengah waras dan diizinkan ke luar ruangan atau pengunjung yang menjenguk keluarganya. Tentu saja kedua kategori itu bukan aku. Sebab aku bukan pasien. Juga bukan pengunjung. Lebih tepatnya, aku eks pasien. Atau mantan pasien. Ah, terserah padamulah!

Baca juga: Aku dan Seorang Perempuan Bergantian Menulis Sesuatu – Cerpen Ozik Ole-olang (Banjarmasin Post, 22 Juli 2018)

Seperti kemarin-kemarin, lelaki pembersih taman itu menjadi pemandangan menarik bagiku, serupa pucuk cemara yang selama ini kulihat dari bawah mahoni. Entah kenapa, tiba-tiba kakiku melangkah mendekati lelaki itu. Aku duduk di batu— tempatnya biasa duduk melamun sambil menyeka air mata dengan lengan bajunya—dan memandangnya menyapu di taman.

“Ibu kenapa duduk di sini? Biasanya Ibu duduk di sana?”

Aku tak menjawab. Sedikit terperangah sebab ternyata ia mengetahui kebiasaanku.

“Istrimu dirawat di sini?” tanyaku pelan. Ia menatapku sejenak lalu menunduk.

“Iya,” jawabnya getir.

“Dia pasti sembuh. Percayalah.”

Ia memandangku.

“Beruntung sekali istrimu. Ia dipenuhi dengan cinta. Ia akan segera sembuh.”

Terdengar teriakan dari gedung di lembah. Teriakan yang suaranya tentu sangat dipahami lelaki itu, sebab begitu mendengarnya ia langsung terburu-buru melesat ke gedung itu.

Ia hanya meninggalkan suara putus-putus bercampur gelisah padaku sebelum berlalu, “Saya ke sana dulu, Bu.”

Arsip Cerpen di Indonesia