Di Bawah Pohon Mahoni

Aku memandang kepergiannya dengan mata berkabut.

Sore yang lain. Aku masih duduk di tempat yang sama. Tempat biasa aku menghabiskan waktu, menunggu takdir yang lain. Kutatap pucuk cemara dan kubayangkan kekanakku dulu. Ah, aku begitu rindu. Entah kenapa aku kembali mengingat rindu. Dua puluh tahun di sini, aku hampir saja tak lagi mengenal apa itu rindu.

Aku masih sibuk dengan hambarnya hidup ini saat lelaki pembersih taman itu tiba dan melaksanakan rutinitas biasanya. Namun ada yang berbeda hari ini. Usai menyapu, lelaki paruh baya itu berjalan ke arahku lalu duduk tak jauh dariku.

“Kenapa istrimu gila?” tanyaku tiba-tiba begitu ia duduk.

“Ini kesalahan saya.”

“Kesalahanmu? Karena itu untuk menebusnya kau menungguinya di sini?”

Ia menatap pucuk cemara di seberang sana. Mataku mengikutinya.

“Beruntung sekali istrimu,” ucapku pelan. Bergumam. Tapi ia menoleh dan menatapku.

“Sore ini belum kudengar teriakannya. Biasanya jam segini dia kumat,” lanjutku.

Ia tersenyum sumringah.

“Sejak sore kemarin sampai hari ini ia belum berteriak lagi. Mudah-mudahan ini penanda ia akan sembuh.”

Aku mendesah. Basa-basi mendoakan istrinya, lalu pamit.

“Biasanya hingga senja Ibu duduk di sini,” ia tampak heran dengan kepergianku. Kukatakan bahwa ada yang ingin kuselesaikan. Ia mengangguk lalu turut beranjak. Kami sama-sama melangkah, namun pada arah yang tidak sama.

Baca juga: Pesan Seharga Rp 21 Ribu – Cerpen Ria Lestari Baso (Banjarmasin Post, 01 Juli 2018)

Aku masuk ke ruanganku. Ruangan yang dijadikan kamar dan tempatku tinggal sejak dua tahun ini. Delapan belas tahun aku kehilangan diriku, juga duniaku. Berdasarkan cerita seorang perawat senior, dulu aku dipungut dari simpang lima saat razia orang gila. Katanya aku luntang-lantung berbulan-bulan dengan rambut kusut.

Di rumah sakit jiwa, aku tak punya pengunjung. Biayaku ditanggung negara. Dua tahun lalu aku mulai ingat siapa diriku. Tapi aku tak punya tempat kembali. Atas kebijakan kepala rumah sakit dan dukungan para karyawan, aku diperbolehkan menempati ruang sempit di salah satu gedung dan membantu Ibu Kepala Dapur menyiapkan makanan pasien.

Arsip Cerpen di Indonesia