Hantu

“Aku ingin ke laut!” teriaknya mirip lolong anjing. Sedangkan di dinding rumah coretan makin menumpuk. Seperti saling timpuk. Dan tetap saja tak ada kata laut, yang ada hanya maut. Hmmm. Dasar.

Puluhan hari dan malam sejak itu ia menghilang. Lenyap. Biasa saja. Ia, toh, selama ini datang hanya sekadar saja. Sekadar ingin curat-coret. Saya sendiri mulai melupakannya. Kesibukan sehari-hari makin padat dan tak terduga. Pagi hari jualan mainan, siang menjadi nenek-nenek pengasuh anak, sore menjadi pelari di taman kota, menjelang malam menjadi anak usia 10 tahun yang melulu menghafal lagu “Balonku”, lantas sering muncul juga penyanyi dangdut yang membuat saya harus berjoget, kemudian peracau yang kadang tak bisa dijinakkan karena saya sering lupa hitungan bacaan surat kesayangannya, kacaunya lagi sebelum datang pelacur jahanam itu, beberapa kali hadir seekor anjing yang melolong dan lapar.

Arsip Cerpen di Indonesia