Repot memang. Memang repot. Bagaimana lagi. Beginilah hidup yang mesti dijalani. Asyik. Sekali- pun rumit.
Puluhan hari dan malam saya melupakan hantu yang selalu menulis tuhan itu, melupakan laut yang selalu menulis maut itu. Sampai kemudian ia tiba-tiba datang lagi, sehari selepas gemuruh hari buruh yang berbuntut kerusuhan, semalam setelah purnama tempat sebuah buku ditutup untuk membuka buku baru.
Mengejutkan. Lewat tengah malam. Saya sedang bernyanyi balonku sambil berjoget sambil merapal bacaan surat sambil membuat mainan dari sampah. Di pekarangan. Ia datang seperti ekor badai yang kehabisan tenaga, sempoyongan. Bau ganggang dan garam menyeruak. Di tangan kirinya masih tergenggam botol minuman dan di tangan kanannya, kini, setumpuk kertas. Kertas keramat barangkali, atau mungkin kertas berisi peta harta karun, seperti yang sering terlihat dalam film bajak laut.
Di bawah sorot bulan yang seperti masih bulat padahal sudah tidak bulat, ia berdiri miring kiri miring kanan. Persis Jack Sparrow dalam film yang saya tonton ratusan kali, tubuhnya di bawah sorot bulan itu hanya nampak rangka saja, tulang belulang. Dasar hantu.
“Ini harta karunku! Lihatlah, sebelum kulempar ke pasar!” Serak suara araknya menggelegar. Awan langsung menggulung bulan yang tiba-tiba gentar dan gemetar. Aih, tanpa sorot cahaya bulan ia kembali memiliki daging dan kulit dan darah. Berdiri dengan senyum yang perih. Benar-benar hantu.
Lagu balonku, joget dangdut, bacaan, mainan mendadak berhenti dan bersembunyi. Saya duduk bersila. Khusyuk. Mengelus janggut yang cuma tujuh helai sebelum mengulur tangan menyambut tumpukan harta karunnya.
Setumpuk harta karun. Puisi. Duh. Seseorang yang seperti hantu, seperti bajak laut itu ternyata seorang penyair. Elok nian. Di dalam timbunan puisi itu, kuintip kilau harta, ada gemerlap kata-kata yang mungkin didapatnya dengan kematian sebab bau anyir darah dan bau busuk belatung menyelimuti tumpukan harta karunnya itu. Betapa pedih membayangkan perjuangannya melempar hidup ke laut.