Tangan saya pelan meraba tumpukan harta karunnya itu, jari-jari tak sabar merayap masuk ke dalam timbun cahaya yang kenyal dan gigil, seperti layaknya memasuki kutang yang basah air laut.
Saya gelagapan menggenggam kata. Kata-kata itu seakan sebuah tubuh yang hidup dengan pancaran cahaya yang ajaib. Saya seakan dibawa ke banyak kejadian, ke banyak dunia, ke banyak pengalaman yang menggetarkan. Benar-benar harta karun.
Saya seperti merasakan kelahiran diri saya yang baru, yang lebih mengasyikkan sekaligus mengerikan dari diri-diri saya yang sebelumnya. Diri yang terus bangkit menenggelamkan diri-diri saya lainnya yang makin dalam bersembunyi.
Saya hanya bisa nganga dengan birahi yang membabi buta. Ia, yang mirip hantu itu, tersenyum perih namun bahagia. Berjalan miring kiri miring kanan. Dan. Sialan. Berjalan masuk ke dalam diri saya yang masih nganga dan bergairah.
“Mari mabuk maut!” lolong ia yang kini memegang kemudi diri saya. Hantu itu, bajak laut itu. Temyata diri saya juga.
Saya langsung memeluk tumpukan harta karunnya. Kini, tentu harta karun saya. Berlari ke dalam rumah. Menyingkirkan semua mainan dari atas meja. Lantas membaca setiap kata di setiap lembar. Lantas menulis setiap kata di setiap lembar. Membaca puisi. Menulis puisi. Begitu saja. Terus dan terus. Meja itu tiba-tiba menjelma perahu bajak laut yang berlayar dari satu laut ke laut lainnya. Berlayar di atas laut maut yang begitu menggairahkan. Ia terbahak sambil memegang kemudi, saya gemetar membaca dan menulis setiap kata. Aih. Puisi. Sejak kapan saya tergila-gila puisi. Penyair. Duh. Hari-hari makin mengasyikkan sekaligus mengerikan. Melulu berburu kata ke mana-mana. Oh, maut di mana-mana. Gelisah dan gelisah.
Sejak hantu itu menguasai diri saya. Hari-hari menjadi lain. Tak ada lagi pelacur centil ceriwis, tak ada lagi penjual mainan, tak ada lagi nenek-nenek pengasuh anak, tak ada lagi pelari, tak ada lagi anak kecil dan lagu balonku, tak ada lagi penyanyi dangdut, tak ada lagi peracau, tak ada pembaca surat, tak ada lagi si bijak, tak ada lagi anjing lapar. Tak ada? Masih, masih ada tapi jauh bersembunyi. Mengintip. Teramat jauh.
Ya. Masih ada hari-hari. Masih ada, makin asyik, makin terasing, dan makin tak terduga. ***
Kedungpanjang, 2018
Toni Lesmana lahir di Sumedang, 25 November 1976. Buku terakhirnya adalah kumpulan puisi Tamasya Cikaracak (2016) dan kumpulan cerpen Tamasya Kota Pernia (2018). Kini tinggal di Ciamis.