“Masuklah, hei kau Badrun!”
Suara itu terasa lembut tapi menggetarkan dadanya yang mulai membusuk dan tergerus dosa-dosa kehidupan. Ajaibnya suara tak dikenal itu bagai magnet menarik Badrun melangkah masuk ke dalam.
Di dalam ia menemui seorang tua bersorban putih dan di ujung jemari memegang butiran tasbih, serta mulut terus bersalawat.
“Siapakah kau orang tua?”
Rasa penasaran Badrun menyeruak.
“Aku tahu kegelisahan dirimu, Badrun!”
“Apa yang menghantui kepalamu itu, aku mengetahui semuanya.”
“Lepaskan semuanya dan lakukan karma baik untuk penebusan hal tersebut!”
Badrun hanya terdiam sesaat, matanya tampak menerawang dan melisik ke orang tua yang seakan tahu perihal dirinya.
“Karma baik?”
“Maksudmu apa, hei orang tua?”
Badrun tak paham akan ucapan orang tua bersorban yang ada di depannya.
Pertanyaan-pertanyaan masih belum terjawab sama sekali dan tak akan mungkin.
Orang tua bersorban itu kemudian meletakkan sebuah amplop warna putih di atas meja.
“Buka dan bacalah untuk menemui karma baikmu, jika tidak, kau akan panas terbakar!”
Baca juga: Sarmin Mencari Kantil – Cerpen Ferry Fansuri (Kedaulatan Rakyat, 08 Oktober 2017)
Badrun semakin tak mengerti apa yang dimaksud orang tua, sekilas tampak kabut mendera kelam merujuk padam semua pelita. Sekejap berubah merah menyala, sekeliling Badrun berkobar api menjilat-jilat. Seketika itu tubuh Badrun telah dilalap kepungan api yang menjalar begitu cepat, ia hanya berteriak mengerang kesakitan hingga tak tersisa dari dirinya.
***
Keringat bercucuran di sekujur tubuh Badrun, menjelang subuh itu, bermandikan peluh. Ketakutan yang amat sangat terpancar di raut wajahnya, mimpi yang ia alami apakah nyata atau bunga tidur semata? Badrun hanya tak bisa menerjemahkan dengan akal pikiran yang sempit itu.