Badrun terkesima akan rekaman-rekaman yang disalurkan dalam larik otaknya.
“Temukan Nayala demi karma baikmu.”
Suara Karnawi bak membetot tubuh Badrun ke belakang dalam hitungan detik tertarik semacam black hole dan tenggelam di dalamnya. Hilang lesap dan moksa.
***
“Apa? kau mau pensiun?”
“Gila kau Badrun, dalam dunia kita tak kata pensiun, ini pekerjaan seumur hidup.”
Suara menggelegar Bos Patek bertalu-talu di gendang telinga hingga mendenging.
“Aku hanya pamit dan mencari Nayala.”
Kata itu yang diucapkan Badrun terakhir kali dengan membelakangi tanpa peduli teriakan Patek.
“Jalan keluar satu-satunya hanya mati!”
Racuan-racuan Patek samar-samar menghilang di balik perkampungan kumuh yang dikepung hutan belantara beton. Pamitan itu mengandung risiko bagi Badrun, seorang serigala meninggalkan kawanan merupakan hal berbahaya. Tapi Badrun sudah mantap untuk tobat dan mencari Nayala.
Badrun mulai mencukur kumis dan brewok, begitu klimis, membasuh wajah dan tangan dengan wudu. Tiap malam bertafakur dan sujud mohon ampun atas kesalahan-kesalahan selama ini. Badrun berusaha belajar kembali atas ketertinggalan dirinya, atas ajaran-ajaran yang maha Esa dan sebagai bekal untuk bertemu Nayala.
Baca juga: Perempuan yang Menunggu – Cerpen Zaenal Radar T (Kompas, 22 Juli 2018)
Waktu terus bergulir dan Badrun harus berpindah-pindah tempat untuk menghindari kejaran anak buah Patek. Ancaman itu tak akan henti sampai dirinya bersimbah darah dan kehilangan nyawa. Pindah satu kos ke kontrakan lainnya, melakukan pekerjaan halal macam mengojek, kuli, kurir hingga sales dadakan. Semua dilakukan Badrun untuk menebus dosa agar bisa melakukan karma baik.
***
Badrun terengah-rengah, napas tercekik di ujung tenggorokan. Ia terus berlari dan berlari, anak buah Patek menemukan dirinya saat menyekop pasir dan menata bata di perumahan mewah. Baku hantam tak terhindari dan Badrun kalah orang, keroyokan itu menyebabkan luka menganga di perutnya akibat sabetan samurai lawan. Tetesan-tetesan darah berceceran sepanjang perjalanan, Badrun kehabisan banyak darah. Dikit demi dikit tenaga terloloskan dan terkuras, melemas lutut dan terjatuh terkelungkup. Tanah itu terasa dingin dan Badrun tidak merasakan apa pun, sayup-sayup kelopak matanya mulai mengatup. Samar-samar ia melihat sosok Nayala di ujung gang sedang bergandengan tangan dengan sesosok tomboy dan menyetop sebuah taksi.
Surabaya, Januari 2018
Ferry Fansuri kelahiran Surabaya adalah travel writer, fotografer dan enterprenur lulusan Fakultas Ilmu Budaya, jurusan Ilmu Sejarah, Universitas Airlangga, Surabaya. Karya tunggalnya berupa kumpulan cerpen “Aku Melahirkan Suamiku” (Leutikapiro , 2017) dan kumpulan puisi “Bibir yang Terikat” (AE Publishing, 2017). Mantan redaktur Tabloid Ototrend (Jawa Pos Grup) tahun 2001 hingga 2013. Sekarang menulis, freelance, dan tulisannya tersebar di berbagai media nasional.