Sesaat ketidaktahuan itu, Badrun tak sadar bahwa dirinya telah memegang sebuah pucuk surat di tangan kanan. Betapa kagetnya Badrun hingga tak sengaja melempar surat itu, bertanya-tanya kenapa ada surat di genggamannya. Ia pikir hanya bermimpi, semua hal itu tak nyata baginya.
Detik berganti menit, terus bergulir menjadi jam. Badrun cuma bisa memandangi surat itu, sejenak perlahan kemudian ia meraihnya. Rasa penasaran yang begitu membuncah untuk membuka surat tersebut serta membacanya.
Tiap dosa tidak ada yang terampuni, basuh dosa kamu dengan melakukan karma baik. Bawa hal yang baik bagi dirimu dan temukan sesuatu sebelum matimu. Temukan Nayala dan tuntun dia untuk jadi karma baikmu.
Tertanda
Kyai Karnawi
“Temukan Nayala?”
Badrun sempat kebingungan surat yang ditujukan kepadanya dari Kyai Karnawi, di manakah aku bisa temukan Nayala ini?.
***
Malam masih hangat dalam peraduannya, burung hantu tampak bungkam tak bersuara seperti biasanya. Badrun kembali ke tempat itu, kembali menemui Kyai Karnawi dan ingin menanyakan perihal isi surat itu.
“Di mana aku bisa temukan Nayala? Siapa itu Nayala?”
Kyai Karnawi tak begitu saja menjawab tapi hanya mengangkat jari telunjuknya dan hampir mengenai kening Badrun. Tiba-tiba semua padam kelam berganti sekelumit peristiwa-peristiwa masa lalu silih berganti berseliweran menjadi bayangan nyata baginya.
Nayala hidup berkecukupan bersama keluarga di kampungnya Kepanjen. Tidak ada yang aneh dari Nayala, ia tumbuh gadis ranum yang menarik dengan tubuh semampai dan raut wajah menawan. Mata pria pasti tak akan lepas dari bibir, payudara, pinggul dan pantat yang aduhai itu. Nayala hidup dalam kegelisahan akan pencarian jati dirinya, benih-benih kasih timbul begitu saja kepada sesama jenisnya.
Sebuah perasaan tabu yang dicekal oleh ayat-ayat suci, apalagi ia berasal dari keluarga yang memegang prinsip syariah yang kental dan disiplin. Nayala tidak mengindahkan itu semuanya, perihal yang ia inginkan hanya memuaskan napsu-napsu tak terpuaskan dalam hati dan selangkangannya itu.
Nayala merasa terjebak dalam tubuh yang salah, jiwanya bukan di sini tapi melayang ke langit ketujuh dan tak mau kembali. Berhubungan berkali-kali, diusir dari rumah, masuk dunia gemerlap malam, terjerat narkoba, menenggak miras dan mejajakan diri demi kepuasan yang tiada akhirnya.