“Ah ya, selamat sore juga. Kau Hana kan yang menghubungiku tadi?” Hana tersenyum dan mengangguk. Orang yang sedang berbicara dengan Hana adalah manajer Daniel. Tentu saja siapa pun tamu yang akan menemui Daniel harus melalui izinnya.
“Kau bisa menunggunya sebentar di sini, aku akan memanggilnya,” ucapnya lalu berlalu. Saat pikiran dan hatinya bergumul memikirkan Daniel seseorang yang familiar menghampirinya.
“Kau mencari Daniel kan? Pasti kau yang namanya Hana?” ucapnya tanpa basa-basi lalu duduk di samping Hana. Hana tentu saja kaget, ia menatap orang tersebut dengan gugup mencoba mencerna siapa gerangan orang yang duduk di sampingnya ini.
“Kak Lucas, ah aku hampir tak mengenalimu. Kau lebih tampan bila dilihat langsung. Kau tahu aku sangat mengagumimu, Kak,” celoteh Hana antusias. Apa yang kau rasakan bila bertemu idolamu langsung? Itulah yang Hana rasakan sekarang.
“Aku merasa terhormat bisa jadi idolamu, Hana. Tapi kau belum menjawab pertanyaanku tadi?” Lucas menatap Hana dengan ramah tak lupa senyum yang masih terpasang di bibirnya.
“Iya, Kak, aku ke sini untuk menemui Daniel. Ini ada titipan dari orangtuanya untuk anak kesayangan mereka,” Lucas mengangguk tanda mengerti.
Tiba-tiba tangan Hana ditarik oleh seseorang yang dirindukannya ke suatu tempat yang jauh dari keramaian. Lucas hanya memandang kepergian mereka dengan gelengan kepala dan senyum tipis.
“Untuk apa kau ke sini?” begitulah sambutan Daniel atas kedatangan Hana. Hana bahkan sudah kebal dengan sikap Daniel.
“Aku hanya memberikan titipan orangtuamu. Mereka sangat merindukanmu, Daniel”, begitu pun aku, tambahnya dalam hati. Secuek apa pun sikap Daniel tapi Hana tetap saja merindukannya.
“Kalau hanya itu saja. Kau bisa pergi sekarang,” ucap Daniel lalu meraih renteng makanan yang dibawa Hana. Hana mengangguk lemah. Sebelum Hana pergi ia menatap Daniel cukup lama menyimpan setiap inchi lekuk wajah Daniel dan menyimpannya rapat sebagai simpanan asupan energi ketika besok ia merindukannya lagi.
“Aku juga merindukanmu, Daniel, sangat,” ucap Hana lirih hingga tak siapa pun bisa mendengarnya.
“Kau berkata apa tadi?” tanya Daniel yang ternyata samar-samar mendengar ucapan lirih Hana. Hana gugup ia tersenyum asal.