Bintang Semesta

“Aku juga manusia Hana. Aku bukan seperti Daniel yang tidak pernah keluar.”

“Kenapa dia tidak pernah keluar padahal Kak Lucas saja bisa?”

“Daniel memang tidak mau Hana bukan tidak bisa. Aku juga tidak tahu alasannya apa. Bukannya kalian dekat ya?”

Hana sedikit gugup.

“Emm… Kami memang dekat saat masih kecil, tapi bukan untuk sekarang. Aku bahkan merasa dia berubah jadi orang asing.”

“Dia masih sama Hana, kau harus tahu itu. Mungkin ia melakukan ini karena dia takut kalau kau tahu dia menyukaimu.”

Hana terkejut atas perkataan Lucas.

“Kak Lucas bercanda kan tadi?”

“Aku pandai membaca mata seseorang, Hana, dan saat ini tebakanku tentang Daniel juga tidak akan meleset. Ya walaupun Daniel sering mengelaknya bilang bahwa kalian hanya teman kecil. Hana sudah ya aku pamit waktuku untuk bersantai sudah selesai. Ingat Hana, kau jangan suka sendirian di taman, berbahaya untuk gadis baik sepertimu.”

Tibanya di asrama kebetulan Daniel sedang bersantai setelah berlatih koregrafi dance terbarunya. Lucas menghampiri Daniel yang tengah menenggak sebotol air mineral dengan minat.

“Aku tadi bertemu Hana di taman, Daniel.”

Tiba-tiba saja Daniel tersedak ketika nama Hana disebut.

“Kau tahu dia sangat terkejut ketika aku mengatakan kau menyukainya. Jujurlah Daniel, kau benar-benar menyukainya kan?”

Tiba-tiba darah Daniel mendidih, ia menarik paksa kerah Lucas dan menariknya berdiri. Lucas tentu saja terkejut, namun ia dapat mengendalikan dirinya. Beruntung hanya mereka berdua yang ada di ruangan ini.

“Maksudmu apa hah?” Daniel menatap Lucas dengan amarah yang membumbung tinggi.

“Aku hanya mengatakan apa yang tercetak jelas di matamu, Daniel.”

“Kau harusnya berpikir seribu kali sebelum mmengatakan itu,” Daniel berbalik dan berlari meninggalkan Lucas. Lucas tahu ke mana Daniel akan pergi. Lucas tahu ia salah tapi ia hanya tidak ingin Hana menunggu terlalu lama.

Daniel mengendarai mobilnya dengan kasar tidak peduli dengan pakaian yang sekarang ia pakai. Fokus pikirannya hanya tertuju pada Hana. Sesekali ia meraba ponselnya, ia ingin sekali menghubungi dan membuka chat gadis itu tapi egonya menekan kuat-kuat. Ia hanya perlu menemuinya langsung dan mengatakan semuanya. Pikirnya kalang kabut seakan tidak bersama dirinya. Ia menambah kecepatan secepat yang ia bisa tiba-tiba handphone-nya berdering dan nama Hana tertera di sana. Tangan Daniel bergetar penglihatannya tiba-tiba tidak fokus dan sesuatu di depan tiba-tiba menghantamnya keras. Maafkan aku Hana itulah yang ia ucapkan sebelum semuanya menggelap dan pekat.

Arsip Cerpen di Indonesia