Bintang Semesta

Selang satu jam orang tua Daniel datang kembali. Mereka mencoba menguatkan sang anak semata wayang.

“Ibu dan Ayah akan selalu bersamamu, Nak. Daniel, kamu pasti bisa,” itulah yang mereka katakan pada Daniel.

Malamnya setelah sedikit tenang, Hana mengajak Daniel ke luar melakukan hal yang biasa mereka lakukan saat kecil, melihat bintang. Hana mendorong kursi roda Daniel sampai di taman rumah sakit.

“Kau tahu Daniel aku sangat menunggu momen ini terjadi, di mana kita berdua bisa melihat melihat bintang bersama-sama lagi, seperti saat kita masih kecil.”

“Hana kau tidak marah?”

“Marah? Marah untuk apa Daniel?”

“Kau sudah tahu apa yang diucapkan Lucas kan? Aku tidak mengelaknya. Maafkan aku Hana seharusnya aku hanya menjadi seorang kakak untukmu dan menjadi sosok yang kau impikan. Menjadi sang idola. Tapi sekarang aku sudah merusak semuanya. Kepercayaanmu dan harapanmu. Aku tidak berarti lagi sekarang Hana,” Daniel terisak pelan. Hana tersenyum ternyata Daniel melakukan semua ini untuknya. Ia duduk di depan Daniel merengkuhnya dan menghapus pelan air mata Daniel.

“Daniel, bagiku kau di sini saja semua terasa sempurna. Kau harusnya tahu kau sudah jadi idolaku bahkan sebelum kau setenar ini. Daniel memang dulu aku menganggapmu sebagai kakakku, tapi entah sejak kapan rasa itu berbeda. Saat kau jauh dariku ternyata aku sangat sulit menjalani hidup namun ketika aku melihat wajahmu dilayar kaca energiku serasa kembali. Kau lebih dari apapun sekarang Daniel. Kaulah bintang semestaku.”

Daniel tersenyum, ia lega semuanya baik-baik saja. Ia percaya bahwa ucapan Hana benar dan itulah yang akan jadi motto hidupnya sekarang. (***)

Arsip Cerpen di Indonesia