Ada yang Mencuri Imajinasiku

“Kau tahu, hanya dengan berimajinasi kita bisa menikmati kembali kebahagiaan yang telah hilang. Karena itulah aku akan ke sini untuk merayakannya, pada setiap hari Minggu sore. Ini adalah minggu pertamaku.

Deg. Aku tertegun. Ke sini untuk merayakannya? Aku juga ke kafe ini pada setiap hari Minggu sore, juga untuk merayakannya. Ini adalah minggu pertama kunjungannya ke kafe ini. Pantas saja aku belum pernah melihatnya.

Saat itulah aku merasa ada yang ganjil dan membuatku curiga. Mendengar perempuan itu menceritakan imajinasinya, aku seperti melihat imajinasiku sendiri.

Perempuan itu memejamkan mata, dengan diiringi musik lembut di kafe ini dia menikmati romansa yang diceritakannya, dan aku merasa berada dalam imajinasi yang sama. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas tangannya yang bermerek. Sebuah foto seorang lelaki. Tanpa sadar aku terdorong ke belakang. Bisa saja orang memiliki imajinasi yang sama. Tapi bagaimana mungkin ia bisa memiliki tokoh imajinasi yang sama persis dengan tokoh imajinasiku? Aku berusaha menyembunyikan keterkejutanku.

“Maaf, kalau boleh tahu, apakah dia suamimu?”

“Tentu saja bukan, dia adalah tokoh imajinasiku.”

Sama, batinku.

Lalu ia menceritakan tentang tokoh imajinasinya yang begitu ia cintai itu. Tentang puisi-puisi cinta yang menawan hatinya. Sajak-sajaknya yang begitu meluruhkan jiwanya. Dan kata-katanya yang begitu membuat kalbunya melayang.

Ini benar-benar sinting! Kenapa semua begitu sama? Jangankan kata-kata yang ada dalam puisi-puisi itu, satu tanda baca pun tak ada yang luput ia ceritakan. Bahkan, dari caranya dia merasakan getaran-getaran aneh yang tiba-tiba menjalari tubuh pun sama denganku. Begitu nikmat, begitu indah. Pesona dalam rasa yang sama.

***

“Bila kau memang penasaran, kenapa tak kau cari tahu saja? Siapa perempuan itu? Di mana dia mengenal tokoh imajinasinya? Di mana dia mendapatkan foto itu, dan seterusnya….” tiba-tiba Inez memberi solusi atas kegundahanku.

“Untuk apa?”

Hanya seorang tokoh imajinasi yang sama. Tokoh itu juga bukan suamiku, yang bisa aku anggap dia telah berselingkuh. Rasanya tak rela berbagi imajinasi yang sama. Imajinasiku adalah milikku. Pikiranku adalah milikku. Bagaimana bisa pikiranku ada pada pikiran perempuan itu?

“Baik, jika kau tak mau mencari tahu sendiri, biar aku saja.”

Arsip Cerpen di Indonesia