“Maksudku, kau mestinya bersimpati pada apa yang dialami perempuan itu, En.”
“Setelah aku mendengar kisahnya, bahkan aku akan membuatkan imajinasi baru khusus untuknya.”
***
Karena rasa penasaran, kami menemui perempuan itu di kafe pada hari Minggu sore. Entah sudah Minggu ke berapa dia selalu berada di sana. Sementara aku sudah tidak berada di sana pada waktu yang sama.
“Aku pikir ia adalah seorang fotografer, karena selalu ada kamera yang dikalungkan di lehernya,” kata perempuan itu.
“Ia bilang bisa melenyapkan ingatan pahitku, dan menggantinya dengan imajinasi yang indah. Aku percaya saja padanya. Aku sudah putus asa. Aku sudah tidak punya kekuatan lagi untuk mendebatnya. Lalu ia menyuruhku berbaring dengan mata terpejam, menghirup udara dari hidung, dan mengembuskannya perlahan dari mulut. Rasanya segala sesak di dada perlahan mulai terkikis. Beban yang memberatkan tengkukku mulai hilang. Ketika membuka mata, tak ada lagi bayangan-bayangan orang-orang yang menakutkan itu. Sebagai gantinya, aku merasa takjub dengan imajinasi yang baru saja kuperoleh. Satu paket dengan selembar foto seorang lelaki di tanganku. Sampai-sampai aku tak menyadari kalau orang itu sudah menghilang dari pandanganku.”
“Apakah kau memercayai ceritaku?”
Aku dan Inez tak bisa berkata apa-apa. Kami hanya mengangguk.
“Bisa kau bayangkan, betapa tersiksanya setiap kali mengingat kejadian itu. Ketika aku mengendarai mobil BMW hendak pulang ke rumahku, di tengah jalan tol aku dihadang oleh 25 orang. Semuanya laki-laki. Kaca jendela mobil dipukul sampai pecah. Aku diseret keluar mobil, dipukuli dan ditampar. Ada dua orang yang masing-masing memegangi tangan kanan dan tangan kiriku. Terasa rokku ditarik. Mulutku dibungkam telapak kaki berdaki. Berpuluh-puluh tangan menggerayangi dan meremas-remas tubuhku. Aku pingsan. Setelah siuman, aku mendapati tubuhku telanjang terkapar di jalan tol. Dan seluruh keluargaku juga mengalami nasib yang mengenaskan.”
Perempuan itu memandang keluar jendela. Tak sedikit pun perempuan itu terisak. Seakan mengerti keherananku, dia melanjutkan.
“Baru kali ini aku bisa menceritakan kejadian itu. Padahal sebelumnya, belum pernah sekalipun aku bisa berkata-kata. Aku hanya bisa menjerit dan menangis.”
“Mungkin karena ingatan pahit itu berhasil di hapus,” ujarku lirih.