Ada yang Mencuri Imajinasiku

Aku hanya diam. Kupikir rasa penasaran sekali-kali harus terjawab.

***

Aku sebenarnya sudah lupa, ketika tiga bulan kemudian Inez memberi tahu hal yang tak pernah kusangka. Tak terlalu sulit Inez menemui perempuan itu. Karena setiap Minggu sore, dia pasti ada di sana. Sejak aku bertemu dengannya, aku tak pernah melakukan ritual ke kafe itu lagi. Aku merasa tak nyaman imajinasiku ada yang menyamai.

“Namanya Clara Atawa,” Inez memegang tanganku.

“Dia adalah salah satu korban pemerkosaan pada kerusuhan Mei 1998. Kedua adiknya, Monica dan Sinta juga diperkosa dan dilempar ke dalam api. Mamanya juga diperkosa, lalu bunuh diri dengan melompat dari lantai empat. Papanya juga menyusul karena tak kuat menahan beban hidup.”

“Dia tidak ingin terbebani dengan kejadian yang mengerikan seperti itu sepanjang hidupnya. Lalu seseorang datang memberinya imajinasi…”

“Maksudmu?”

“Sepertinya ada yang menduplikat imajinasimu, kemudian memberikannya pada perempuan itu.”

Inez melepaskan tanganku, sengaja mengambil jeda. Seakan tahu kebingunganku. Sambil menatapku, dia melanjutkan.

“Aku juga bingung dengan ceritanya. Ia mendapatkan imajinasi itu dari seseorang yang merasa iba dengan penderitaannya. Imajinasi, yang tak lain adalah imajinasimu, telah menyelamatkan hidupnya dari kehancuran. Dia hidup sendiri di rumah susunnya. Hampir setiap malam dia mengigau-igau, menjerit-jerit, dan terkadang menyakiti diri sendiri. Jika pagi menjelang, dia terlihat normal dan pergi bekerja mengurus perusahaan mendiang papanya.”

Aku membayangkan betapa perempuan itu hidupnya begitu sangat menderita dengan bahasa yang tak bisa mewakili rasa sakit, rasa terhina, rasa tak berharga lagi, dan rasa terlecehkan diperkosa bergiliran oleh banyak orang, di tempat umum. Kesedihan yang terus-menerus dirasakannya dari waktu ke waktu, dan betapa satu-satunya cara untuk membebaskan diri dari perangkap kesedihan adalah dengan memiliki imajinasi yang membahagiakan.

“Tapi kenapa imajinasiku yang di-copy dan diberikannya?”

“Katanya hanya imajinasimu yang paling indah dan istimewa dari imajinasi-imajinasi yang pernah ada.”

Inez menelan ludah dan menatapku lama.

Arsip Cerpen di Indonesia