Barlin dan Anjing-anjing

Kejadian aneh lainnya terjadi ketika Barlin pulang kampung dengan gelar sarjana telah tersemat di belakang namanya. Dia adalah tetangga sekaligus teman dekatku. Kami berpisah usai menamatkan SMA. Dia memutuskan melanjutkan pendidikan ke ibukota yang harus ditempuh berjam-jam lamanya dari desa kami.

Teraneh adalah, dari sekian ratus penduduk kampung—ditambah puluhan penduduk kampung sebelah yang sering berkunjung. Hanya Barlin seorang yang digonggongi anjing-anjing penghuni belakang balai desa itu. Padahal dia juga bagian dari warga yang lahir dan besar di kampung ini, bukan orang asing. Tak ada yang berbeda darinya, kecuali mungkin pakaian dinasnya yang saban pagi selalu rapi, pun berbau harum.

Barangkali boleh disebut keberuntungan atau memang sudah takdirnya bernasib baik. Da menjadi orang pertama dari kampung kami yang berhasil menjadi wakil rakyat di usia yang relatif muda. Sebuah pekerjaan yang mulia nan bergengsi. Berbeda dengan kebanyakan penduduk kampung yang berprofesi sebagai peternak atau petani yang akrab dengan bau pupuk atau tahi sapi.

Sejak mendapat perlakuan tak menyenangkan dari kawanan anjing itu, Barlin selalu menjaga gerak-geriknya. Langkahnya waspada ketika keluar masuk rumahnya yang terpaut hanya beberapa meter di belakang balai desa. Dia tak ingin terlihat oleh anjing-anjing kampung itu. Bila keberadaannya terdeteksi oleh mereka, moncong-moncong penuh kemarahan akan terulur-ulur. Menyalak sahut menyahut, gigi-gigi tajam menyeringai, seakan siap menerkam Barlin. Seolah setiap pergerakan lelaki itu mengesalkan hati mereka.

Tak jarang Barlin menerobos kedaiku untuk menghindari anjing-anjing itu dan keluar dari pintu belakang. Dari sana dia mengendap-endap, menyusup masuk rumahnya sendiri. Betapa aku iba bercampur geli melihatnya. Barlin benar-benar terintimidasi oleh hewan-hewan yang sesungguhnya memiliki derajat yang jauh di bawah manusia itu.

“Menurutmu, mengapa anjing-anjing itu memperlakukanku berbeda dengan orang lain?” tanya Barlin. Suatu hari ketika dia duduk bersamaku di bagian dapur kedai paling dalam. Bahkan, untuk sekedar minum kopi dan bersantai sejenak, dia tak dapat berbaur dengan pengunjung lain di meja-meja depan.

“Barangkali dulu, pada masa lalumu, kau pernah berperilaku buruk terhadap seekor anjing,” kataku berpendapat.

Dia tercenung sesaat.

Arsip Cerpen di Indonesia