Barlin dan Anjing-anjing

“Seingatku tidak pernah. Kalaupun ya, bagaimana itu bisa terhubung dengan mereka?”

“Mungkin pada suatu masa kehidupan, anjing-anjing itu telah bertemu dan bertukar informasi, bahwa kau orang yang patut diwaspadai,” sahutku asal.

“Omong kosong!” Wajah Barlin masam. Aku tertawa kecil. Tak kutemukan alasan yang tepat. Tak peduli seberapa lama dan sejauh apa pun aku mencari tahu penjelasan atas tingkah ganjil tujuh anjing itu terhadap Barlin.

Kadang ada kalanya kawanan hewan tersebut tetap menyalak ke arah rumah Barlin sekalipun sahabatku itu tidak keluar dari pintu. Seolah baunya saja cukup untuk menyulut kemarahan mereka. Seperti sore ini.

“Diam! Hush!” Barlin menghardik dari loteng rumahnya. Dia sedang mengangkat kain jemuran di atas dan anjing-anjing menggonggonginya dari bawah. Orang-orang sampai menoleh, melongok dari jendela, bahkan keluar rumah untuk melihat kejadian itu.

“Ada apa, Barlin?” aku berteriak untuk mengalahkan ributnya suara salakan.

“Anjing-anjing sinting!” Dia mengumpat dengan suara tak kalah keras. “Mereka membuatku terlihat seperti pencuri di siang bolong, di rumahku sendiri!”

Terdengar tawa dari berbagai arah. Setiap orang tampak terhibur. Kecuali Barlin, tentu saja.

“Apa aku pergi saja dari desa ini?” Barlin bertanya, entah ditujukan padaku atau pada dirinya sendiri. Dia tampak berpikir sebentar, lantas mengangguk-angguk seolah baru menemukan solusi jenius untuk menyelamatkan diri.

“Kau dengar itu, kawan? Aku akan membangun rumah di kota dan pindah ke sana. Aku tak akan bertemu lagi dengan anjing-anjing sialan itu!” teriaknya sekuat tenaga.

***

Sejak kejadian itu, nyaris dua bulan Barlin tak pulang. Selama itu pula desa kami sepi dari salakan anjing. Kawanan hewan itu kini hidup tenang dan tentram. Walau bukan suatu perkara yang mengundang perhatian, namun benakku menyimpan sejumput tanya. Apa Barlin sudah berhasil membangun rumahnya di kota dan benar-benar pindah ke sana? Penyebab itu semua hanyalah sekumpulan anjing?

Sore itu, seperti biasa, aku sibuk berkutat dengan bubuk kopi. Air mendidih, gula-susu dan segala perkakas ketika pengunjung kedai bersahut-sahutan menyerukan nama Barlin. Kepala-kepala mereka mendongak, menyimak berita yang ditayangkan televisi yang bercokol di pojok kanan kedai. Aku menghentikan aktivitas menyaring bubuk-bubuk kopi dan bergegas meninggalkan dapur. Aku ikut bergabung bersama orang-orang menonton televisi.

Arsip Cerpen di Indonesia