“Wah, tak kuduga ternyata Barlin sampai hati melakukan korupsi!” Seseorang menyeletuk.
“Muda dan terpelajar, tapi ternyata dia menelikung negara ini menusuk kita dari belakang.” Seorang lagi berdecak.
“Rambut boleh sama hitam, tapi hati siapa yang tahu…” Yang lain menimpali. Komentar bernada sama terus terucap di sana sini.
Di layar, tampak seorang lelaki muda keluar dari sebuah bangunan dengan kepala tertunduk-tunduk ketika menghadapi sorotan kamera dan serbuan tanya. Pakaiannya bukan lagi seragam khas yang dia kenakan setiap pagi ketika berangkat kerja, melainkan sebuah setelan khusus bagi tahanan KPK. Tak ketinggalan sejumlah lelaki lain mengapitnya di kanan kiri. Mengawalnya ketat, tak memungkinkan lelaki itu mencuri sedikit saja kesempatan untuk melarikan diri.
Kutatap televisi lekat-lekat. Memang benar itu Barlin. Teranglah kini tentang keberadaan dan tingkah laku yang selama ini disembunyikannya dari seluruh penduduk desa. Sungguh aku kecewa padanya.
Pengunjung kedai yang meminta suguhan kopi atau teh memaksaku kembali ke dapur. Aku baru akan beranjak ketika tiba-tiba terdengar suara berisik dari arah luar.
Semua orang menolehkan kepala. Tampak anjing-anjing kampung penghuni belakang balai desa telah berkerumun di depan kedai. Mendadak mereka menyalak bersahut-sahutan dengan mata berkilat menahan geram. Arah tatapan mereka tertuju pada….televisi!
Tampak di layar Barlin mengangkat wajah sejenak. Sontak anjing-anjing itu menyalak lebih keras, penuh amarah.
Medan, 2017-2018