Hanya Anjing yang Boleh Kencing di Sini

Untuk menangkap basah si tukang kencing itu, suatu malam, Ratmi meminta suaminya untuk berjaga dan mengintai manusia seperti apa yang sudah mengencingi halaman rumahnya. Tapi, suami Ratmi maupun Ratmi sendiri tak pernah memergoki secara langsung. Mereka selalu ketiduran setiap kali mencoba berjaga. Ratmi pernah berpikir ingin memasang beberapa jebakan tikus, menyebarnya di bawah pohon sawo yang remang itu. Tak perlu umpan. Karena jebakan itu memang bukan untuk para tikus. Tapi, untuk kaki-kaki sialan yang berjalan mengendap-endap di halaman rumahnya dan melepaskan hajat di pokok pohon sawonya. Tapi, Ratmi tak pernah melakukan itu. Justru sebuah ide lain muncul di kepala Ratmi.

“Orang-orang kencing di sini karena tempat ini gelap,” ujar Ratmi kepada suaminya. “Jadi, kita pasang lampu saja, tepat di bawah pohon itu, kita gantung di salah satu dahan. Dan jangan lupa, kita tempel plang dari tripleks dan kita tulisi ‘Hanya Anjing yang Boleh Kencing di Sini’. Tulisi yang besar biar mereka melek.”

Suami Ratmi segera bertindak. Setelah lampu dan plang itu terpasang, Ratmi menghela napas karena beranggapan halaman rumahnya akan terbebas dari aroma memuakkan itu. Tapi, rupanya Ratmi salah. Esok harinya dan esok harinya lagi, aroma pesing itu masih saja tercium sampai ke dalam kamarnya. Bahkan, aromanya semakin pekat. Seolah aroma pesing itu melayang-layang di udara dan membeku di sana. Saban pagi, Ratmi menyiram pokok pohon sawonya itu dengan air bekas cucian piring atau air bekas mandi bayinya agar bau pesing itu enyah dari sana. Tapi esoknya, setiap pagi baru tiba, aroma pesing itu datang lagi.

Baca juga: Resital Malka – Cerpen Mashdar Zainal (Suara Merdeka, 15 Juli 2018) 

“Baiklah, ini sudah tidak bisa ditoleransi lagi,” ujar Ratmi megap-megap, menahan aroma mujarab yang meringsek ke lubang hidungnya. “Kalau sampai terbukti, mereka harus dibawa ke polisi, mereka kudu diperkarakan,” tambahnya.

“Tapi, tugas polisi bukan menangkap orang yang kencing di halaman rumah orang,” sahut suaminya.

“Tapi, mereka mengganggu ketenteraman orang, itu tindak pidana. Yah, kalau polisi tak mau menangkap mereka, kudoakan saja supaya Tuhan atau siapa saja mengebiri barang mereka. Biar mereka tak bisa kencing sembarangan lagi.”

Suami Ratmi tertawa kecil.

“Coba malam ini kamu ke gardu, tegur mereka secara baik-baik,” pinta Ratmi dengan muka cemberut.

“Tapi, Pak RT kan sudah pernah menegur mereka.”

Arsip Cerpen di Indonesia