Semakin malam seharusnya semakin sunyi, namun gardu di depan pasar itu berbeda. Semakin malam justru semakin riuh. Jarum jam sudah menukik, menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Tapi, tak tampak seorang pun yang mendatangi halaman rumah Ratmi.
“Tak ada yang kencing di situ. Jangan-jangan memang bukan mereka,” gumam suami Ratmi, pelan.
“Kita lihat saja.”
Baca juga: Ibu Pergi Memancing – Cerpen Mashdar Zainal (Lampung Post, 11 Februari 2018)
Sambil berjaga dan menyesap kopi yang semakin dingin itu sesekali, mereka berbincang lirih. Seperti dua orang yang sengaja berbisik. Sementara jarum jam terus bergerak, sampai ke angka dua belas, lalu ke angka satu, dan seterusnya.
Pukul setengah tiga, Ratmi dan suaminya sudah mengerut. Lubang mata mereka sudah menggelap serupa sepasang mata panda. Mereka nyaris putus asa, hingga tiba-tiba Ratmi terlonjak karena melihat kelebatan di antara pohon sawonya.
“Sebentar, lihat itu!” Wajah Ratmi bergeser mendekati jendela yang sedikit terbuka. Suaminya mengikutinya dengan malas.
Di bawah pohon sawo itu, tampak seekor anjing liar berjalan mondar-mandir, sebelum akhirnya mengangkangkan kaki dan mengencingi pokok pohon itu. Kepala Ratmi mau meledak. Anjing itu tak bersalah. Ya, memang hanya anjing yang boleh kencing di situ. ***
Surabaya, 2015
Mashdar Zainal. Lahir di Madiun, 5 Juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa. Tulisannya tepercik di berbagai media. Kumpulan cerita terbarunya “Lumpur Tuhan’’ pemenang Sayembara Sastra Dewan Kesenian Jawa Timur 2017. Kini bermukim di Malang.