“Beda. Pak RT sudah tidak bisa diharapkan lagi. Aku pengin dengar apa yang mereka katakan padamu. Soalnya yang dikencingi ini rumahmu, bukan rumah Pak RT.”
“Wah, aku malas sekali kalau harus berurusan dengan orang-orang seperti itu,” balas suami Ratmi, enggan.
“Malas atau takut?” sindir Ratmi. “Kasihan itu anakmu, tiap hari harus menghirup udara beracun.”
“Kita tutup saja jendelanya.”
“Jendela dibuat supaya angin bisa keluar masuk, kok ditutup.”
“Lha kalau tak ditutup baunya pesing, kamu ngomel–ngomel.”
“Makanya, kamu tegur mereka baik-baik. Kamu kan laki-laki.”
Baca juga: Gelak Tawa di Rumah Duka – Cerpen Mashdar Zainal (Koran Tempo, 09-10 Juni 2018)
Malam harinya. Dengan muka tertekuk dan ragu-ragu, suami Ratmi pun mendatangi segerombolan orang di gardu itu. Ratmi mengintip dari balik jendela. Tampak suaminya berbicara dengan beberapa orang. Sesekali ia tersenyum masam. Suaminya tampak mengangguk beberapa kali. Terdiam sejenak. Berbicara lagi. Mengangguk lagi dan berlalu.
“Mereka bilang, tak ada yang pernah kencing di situ,” ujar suami Ratmi bersungut-sungut.
“Kurang ajar! Masih belum ada yang mengaku. Kalau bukan mereka yang kencing di situ, terus siapa lagi?”
Suami Ratmi menggeleng. Putus asa.
“Cuma mereka yang suka begadang sampai tengah malam di situ.”
“Sepertinya mereka orang baik-baik,” lirih suami Ratmi. “Mereka hanya suka begadang dan bermain kartu.”
“Dan mengencingi halaman rumah orang,” sambar Ratmi.
“Mereka bilang tidak kencing di situ,” suara suami Ratmi agak meninggi.
“Lalu siapa?”
Setelah berembuk alakadarnya, Ratmi dan suaminya bersepakat untuk tidak tidur malam ini. Benar-benar tidak tidur. Setidaknya, sampai mereka memergoki makhluk seperti apa yang mengencingi pohon sawonya. Ratmi telah memasang dua kursi di depan jendela. Berhadap-hadapan. Untuknya dan suaminya. Setelah bayinya tertidur. Ratmi membuat dua cangkir kopi pekat untuk berjaga malam. Malam pun menyambut. Mulai merangkak. Semakin menggelapkan yang sudah gelap. Dan gardu di sebelah rumah Ratmi, yang semula sepi itu, mulai ramai didatangi orang.
“Lihat mereka. Pasti salah satu dari mereka yang mengencingi pohon sawo kita,” bisik Ratmi sambil mengintai dari balik jendela.