Malam itu mereka menikmati kopi dan beberapa camilan yang dipesan. Tak biasanya perempuan menyukai kopi. Hanya Herlina perempuan yang selalu memesan kopi. Itu semacam kenangan saat masih berstatus pacaran dengan Kurnia. Tapi, Dewi tak pernah menyoal kopi yang menjadi minuman favorit sahabatnya meski dia sebenarnya tahu. Pelanggan perempuan kafe itu rata-rata memesan jus, termasuk Dewi yang tak pernah mencoba mencicipi kopi sama sekali. Katanya bikin insomnia.
***
Pagi itu, Herlina sudah membasuh lekuk tubuhnya dengan air embun. Kulitnya yang kuning langsat semakin kenyal. Aroma wangi yang dipakai saat mandi menyeruak di sekitar kamar mandi hingga ke kamar pribadinya.
Dia perempuan yang terlihat sempurna sebelum putus dengan Kurnia. Tubuhnya yang sintal. Masa depan dan masa lalunya yang sangat bergairah. Semua lelaki selalu memperhatikannya. Tapi, dia tak mudah terjerat oleh jala-jala asmara setelah tak ada hubungan dengan Kurnia. Mungkin sakit itu tak pernah dia pikirkan meski kadang secara tiba-tiba hatinya terenyuh.
“Wik, kamu sudah, siap?” tanya Herlina pada Dewi di ponsel yang ditempelkan di pipi ranumnya. “Baik, baik. Aku segera berangkat.”
Dalam sekejap, Herlina memoleskan gincu pada dua bibir mulutnya. Padahal dia tak usah memoles gincu sedikit pun. Bibirnya sudah terlihat merekah merah muda. Kecantikan alami itu yang membuat banyak lelaki menyukai Herlina, meski tak sembarang lelaki berani mendekatinya. Sebuah parfum khas disemprotkan pada bagian leher di belakang telinganya. Lalu dia menuju garasi motornya. Bajunya yang terbuat dari kain tipis, melambai saat Herlina bergerak. Seakan membelai kulitnya yang halus.
Tak seberapa lama, Herlina tiba di rumah Dewi. Sebuah senyum mekar dari bibir Dewi. Dia segera menuju Herlina yang menunggu di halaman rumahnya. Tanpa basa-basi, Herlina segera memacu motornya menuju lokasi Kafe Sebal yang tak begitu jauh. Dari halaman kafe, Herlina tak melihat banyak pelanggan di sana. Hanya ada beberapa orang lelaki dan sedikit perempuan. Baru setelah dia memesan kopi, pelanggan berdatangan. Seperti turut-serta Herlina datang ke Kafe Sebal. Situasi kafe tak seperti pada iklan yang dibaca. Herlina hampir mengutarakan itu pada Dewi.
“Iya, ya,” tiba-tiba kata Dewi komplain pada dirinya sendiri. “Kok biasa-biasa saja kafe ini?”
“Ya, itu kan bahasa iklan saja, Wik,” timpal Herlina sedikit kecewa.