Sembari menyeruput kopi yang dipesan, Herlina memerhatikan seorang pelayan perempuan yang secara perlahan seperti merencanakan sesuatu dengan rekannya. Tanpa lepas dari sosok pelayan perempuan itu, Herlina tak memalingkan pandangannya.
Secara perlahan, dinding yang masih putih bersih itu ditarik. Ternyata dinding hanya ditutup kain dengan begitu ketat, sehingga menyerupai dinding. Herlina baru tersadar setelah melihat sebuah lukisan di balik kain putih yang disingkap oleh pelayan perempuan bersama rekannya.
“Wik, kita pulang, saja,” kata Herlina secara tiba-tiba pada Dewi yang sontak kaget.
“Kenapa?” tanya Dewi sembari mengikuti arah mata Herlina memandang.
“Lah, lukisan itu…” ucapan Dewi tercekat dengan gonta-ganti memerhatikan Herlina dengan lukisan di dinding Kafe Sebal.
“Kafe Sebal ini benar-benar membuatku sebal,” katanya dengan wajah tak bersahabat.
Lukisan di dinding Kafe Sebal itu menyerupai lekuk tubuh dan rupa Herlina. Seorang gadis berambut panjang terurai dengan dada menonjol dan tubuh sintal sedang duduk bersimpuh di dekat vas bunga mawar. Sementara tangannya memetik bunga dan mencabik pucuk bunganya. Tapi, Herlina berusaha tenang. Dia khawatir para pelanggan kafe menyadari gerangan yang tergambar pada lukisan di dinding itu.
“Ayo kita pulang, Wik!” kata Herlina setelah melihat kelebat Kurnia yang tak jauh di dekat kasir.
Dewi hanya memerhatikan arah pandang Herlina. Di sana, di dekat kasir, memang ada Kurnia. Dewi mulai menemukan jawaban tentang rahasia Kafe Sebal itu. Juga tentang Herlina. Mungkin Kurnia masih menyimpan rasa pada Herlina. Sehingga, lukisan Kafe Sebal yang dirintis pun diukir dengan gambar gadis menyerupai Herlina.
“Aku pokoknya tak rela!”
Dewi bungkam. Herlina berdiri dengan raut wajah kecut bagai asam. Dia menjelma lagu Nella Kharisma Kecut Bagaikan Asam dalam benak Dewi yang segera menahan tawanya. Dewi melihat ekspresi Herlina tampak berang dan marah besar, seperti cintanya dulu pada Kurnia yang tak mudah dibakar godaan lelaki lain.
“Sudah, Her…” kata Dewi mencegat Herlina yang mulai akan melangkahkan kakinya menuju Kurnia. “Tak usah dipermasalahkan.”
Sontak, seluruh pengunjung Kafe Sebal memerhatikan Dewi yang berusaha mencegat langkah Herlina karena suara cukup nyaring. Begitu juga dengan Kurnia yang sedang berbincang dengan seorang kasir cantik. Keadaan menjadi hening, kecuali suara musik koplo yang mengalun mengiris perasaan. Mereka juga memerhatikan Herlina bergantian dengan lukisan di dinding Kafe Sebal.