Suasana semakin mencekam saat para pelanggan tahu tentang lukisan di dinding kafe. Siang itu, Herlina mandi keringat. Lalu dia beranjak keluar kafe yang diikuti oleh Dewi dan mata-mata penuh keheranan yang terus memandangnya. Air matanya terus mengalir seakan memenuhi jalan yang dilewati.
Dia sebenarnya berharap Kurnia menyusulnya saat pergi dalam keadaan emosi membuncah. Tapi, dia tak merasakan tanda-tanda diikuti oleh Kurnia. Rasa kecewanya pun semakin menjadi. Herlina sadar, dia bukan siapa-siapa lagi bagi Kurnia. Tapi, Herlina tak mengerti tentang Kurnia yang memakai ilustrasi dirinya jika dia tak peduli lagi pada Herlina.
Sebenarnya, dalam hati terdalam, Herlina merasa bangga dan kagum meski kadang terasa menyakitkan atas ilustrasi lukisan Kafe Sebal. Tubuhnya yang sintal dan dada menonjol serta bokong bohai terukir indah di dinding. Ditambah lagi, banyak pelanggan yang tahu kalau lukisan itu tak lain bentuk tubuh Herlina.
Siang itu bagi Herlina seakan menjadi hari yang penuh rasa. Penuh warna. Seperti pelangi yang ada noktah hitam pada warna-warnanya. Lukisan kafe telah membawa perasaannya pada api masa lalu, membakar selain memang membuatnya hangat.
Yogyakarta, 23 November 2017