Bulan Pemakan Ternak

“Kambing-kambingku setiap hari selalu berkurang, apa kambing-kambing dan sapi kalian juga demikian?” Tanyaku pada Budi, Indra, juga Andi.

Mereka adalah teman-temanku sekolah di kelas 2 SD, kami selalu berangkat dan pulang sekolah bersama, karena memang kami tinggal di satu desa dan rumah kami tidak begitu berjauhan. Mereka pula teman yang selalu bersamaku ketika mencari rumput, menggembalakan ternak, dan memandikan ternak kami bersama-sama di sungai.

“Iya, Nang, beberapa waktu yang lalu sapiku ada empat. Sekarang tinggal dua. Dan ketika kutanyakan pada bapakku, aku malah dimarahi. Katanya aku masih kecil untuk mengerti tentang sapi-sapiku,” jawab Budi yang dengan nada kecewa.

“Kalau kata kakek, kambing-kambingku dimakan Buto Ijo, soalnya beberapa waktu yang lalu ada banyak orang yang ramai-ramai memukul kentongan. Tak hanya itu, bulan pun juga turut dimakan, hanya tinggal sebagian,” sahut Indra.

Aku tak mengerti apa yang dikatakan Indra. Siapakah Buto Ijo itu? Aku hanya mendengar dari orang-orang sekali dua kali. Katanya, Buto Ijo itu mirip dengan raksasa. Badannya besar, berwarna hijau, hanya memakai celana, dan tentu saja suka memakan manusia. Aku belum pernah mendengar kalau Buto Ijo juga memakan ternak. Apalagi orang-orang mengetahui kemunculannya, kenapa tidak mereka usir?

Aku semakin penasaran dengan apa yang dikatakan Indra, dengan sesekali membayangkan bagaimana bentuk Buto Ijo itu. Kenapa ketika orang-orang memukul kentongan pada malam hari aku tidak bangun. Dan rasa penasaranku pun menjadi-jadi.

“Apa hubungannya Buto Ijo dengan hilangnya ternak-ternak kita?” Tanyaku pada Indra.

“Aku juga tak begitu mengerti,” timpal Indra.

“Mungkin saja dia sedang kelaparan, sehingga ternak-ternak kita menjadi mangsa,” jawab Andi sekenanya.

“Iya, Andi benar, mungkin saja Buto Ijo itu kelaparan,” ucap Budi polos.

“Kan orang-orang sudah berkumpul, sudah memukul kentongan, mengapa tidak mereka lawan bersama-sama?” jawabku tak terima.

“Mungkin saja orang tua kita takut. Juga seluruh warga desa. Daripada mereka yang dimakan, bukankah sebaiknya ternak-ternak kita yang direlakan?” Sahut Budi.

Aku semakin tak mengerti. Semenakutkan apakah Buto Ijo itu. Rasa penasaranku memuncak. Kami pulang, dengan rasa penasaran yang menjadi-jadi dalam pikiranku. Sementara ternak-ternakku tak pernah kembali lagi.

***

Arsip Cerpen di Indonesia