Aku mengerti sekarang, berarti rantai makanan itu benar-benar berjalan dengan baik. Tak perlu ada yang kucemaskan, sudah berjalan dengan kehendak alam. Tetapi yang masih mengganjal adalah bagaimana cara bulan memakan ternakku. Apakah bulan punya mulut, juga gigi untuk mengunyah? Kalau Buto Ijo aku pasti percaya, sebab dia memiliki mulut dan gigi untuk memakan kambing-kambingku.
***
Ketika pulang sekolah, aku melewati rumah Indra. Sejenak berhenti dan beristirahat di sana. Ada bapakku dan kakek Indra, serta dua orang asing yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku mendengar sayup-sayup yang mereka katakan. Tentang bulan besar, yang diulang terus menerus. Bulan besar, bulan besar, juga kurban. Pada bulan besar harus ada ternak-ternak yang dikurbankan. Aku tak mengerti apa yang mereka katakan. Sama sekali tak mengerti.
Eko Setyawan, lahir dan menetap di Karanganyar, Jawa Tengah. Menempuh kuliah di Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Sebelas Maret. Beberapa karyanya termaktub dalam buku antologi puisi bersama dan kumcer. Buku kumpulan puisinya yang pertama akan terbit pada September-Oktober. Bernaung di Komunitas Sastra Senjanara dan Komunitas Kamar Kata Karanganyar.