Pelarian

Setiba di rumahnya di Jambi, ia empaskan badan ke kasur sambil terus mengomel. Seorang temannya heran, “Ada apa, da Syaf? Apa yang terjadi?”

“Kurang ajar dia!”

“Siapa yang kurang ajar?”

“Itu, si Chao! Dia bilang disuruh papinya tinggal di P. Bangka, buka usaha kecantikan. Disuruhnya aku ke sana, ternyata dia tidak ada di sana?”

“Oh, begitu? Aneh juga itu Uda. Uda Tahu di mana anehnya?”

“Tidak. Di mana anehnya?”

“Bukankah Uda yang kepala borongan membangun salon kecantikan milik orang tuanya di Jambi ini?”

“Iya.”

“Sudah selesai, bukan?”

“Iya. Sudah.”

“Kalau sudah, kenapa dia disuruh papinya membuka salon kecantikan di P. Bangka? Tak masuk akal itu. Jangan-jangan hanya akal-akalan dia untuk melepaskan diri dari Uda. Atau bisa juga siasat orang tuanya yang telah menjebloskan Uda ke penjara dulu. Dia suruh si Chao diam di rumah, lalu dia tulis surat untuk Uda, seolah-olah surat itu ditulis Chao.”

Baca juga: Ayah Ingin Aku Menari – Cerpen Amika An (Haluan, 12 Agustus 2018)

“Kalau surat terakhir itu, memang tak mungkin rasanya Chao yang menulis. Sebab aku tahu betul bagaimana cintanya terhadap aku,” ujar Syafruddin mendayu.

Syafruddin lekas terkenang bagaimana kisah pertemuannya dengan gadis itu, dan bagaimana pula perjalanan cinta mereka dimulai.

Sebelum tiba di Jambi, Syafruddin adalah seorang tentara. Setelah pemerintah pusat berhasil mematahkan pemberontakan PRRI, orang Sumbar berada dalam nestapa. Mereka tidak sanggup lagi menegakkan kepala terhadap tentara dan polisi yang notabene dianggap orang pusat. Sedikit saja kesalahan, misalnya, pengendara sepeda yang salah jalan, maka akan ditampar, pentil sepedanya dicabut, dan dibuang ke dalam selokan. Rumah-rumah dan mobil-mobil penduduk yang bagus-bagus, dipinjam pejabat dan tidak tahu kapan akan dikembalikan.

Suatu ketika, Syafruddin dan beberapa temannya tengah piket di salah satu pos jaga. Seorang rekannya yang seorang tentara pusat datang membawa seorang pemuda yang dianggap melakukan kesalahan di jalan raya. Pemuda yang tidak berani menegakkan kepala itu pucat pasi dibentak-bentak dan bahkan ditampar. Syafruddin tidak tega terus menyaksikan kejadian seperti itu. Walau yang dibentak rekannya adalah pemuda itu, Syafruddin merasa harga dirinya ikut diinjak-injak. Lalu, dia berteriak, “Sudah-sudah!”

Arsip Cerpen di Indonesia