Pelarian

Namun, rekan si tentara pusat itu tak peduli. “Kalau kau tak mendengarkanku, kutembak kau!” Syafruddin hilang sabar.

“Apa? Kau mau menembakku? Silakan kalau berani!”

Syafruddin yang saat itu sedang menunggu panggilan untuk mengikuti pendidikan perwira ke Surabaya segera mencabut pistol dari pinggangnya dan membidik kepala rekannya. Tiba-tiba rekannya yang lain datang dan memukul tangannya sehingga pelor bersarang di paha si tentara pusat sehingga harus dilarikan ke rumah sakit.

“Syafruddin, kautahu tindakanmu? Kau menembak teman sendiri. Kalau dia mati, kau pasti digantung! Lebih baik kau lari. Sembunyi! Tinggalkan daerah ini!” kata rekannya yang membuat bidikan pistol Syafruddin meleset dari kepala ke paha.

Sejak hari itu, Syafruddin menjadi seorang pelarian. Dari Padang, masuk hutan keluar hutan, Kerinci-Jambi jadi tujuan. Setelah beberapa lama di Kerinci, ia mendengar seseorang mencarinya, dia pun meneruskan pelarian ke Jambi. Di Jambi, dia menumpang di sebuah surau yang dikelola orang keturunan India.

Untuk menyambung hidup setelah mengucapkan selamat tinggal pada karir militernya, Syafruddin mula-mula menjadi buruh bangunan. Tetapi berkat kerja bagus, pangkatnya naik menjadi tukang, dan naik lagi jadi kepala pemborong.

Waktu itulah dia mendapat borongan dari seorang kuturanan Tionghoa yang hendak membangun toko, dan membuka salon kecantikan untuk anaknya yang baru menamatkan pendidikan di sekolah kecantikan di Bandung. Karena salon itu dibuat untuk anaknya, maka anak itu pun meninjau pembangunan itu hingga berkenalan dengan Syafruddin.

Baca juga: WOW! Banyak Orang Menangis Membaca Cerpen Ini – Cerpen Maulidan Rahman Siregar (Haluan, 14 Januari 2018)

Pertama berkenalan, jantung Syafruddin berdegup keras, si amoy juga tersipu memucat saat menyebutkan namanya Chao-Xing. Sejak hari itu mereka sering bertemu. Bukan sekadar itu. Syafruddin sering datang ke rumah Chao-Xing. Atas permintaan Chao-Xing pula, mereka sering nonton bioskop.

Mulanya mereka diizinkan nonton bersama asalkan berangkat dengan sepeda masing-masing. Tidak boleh berboncengan. Lambat laun, Chao-Xing mencari cara agar dapat berboncengan dengan Syafruddin. Pada suatu senja saat menunggu Syafruddin di rumah, diam-diam Chao-Xing mengempeskan ban sepedanya dan menuduh adik-adiknya yang berbuat ulah. Akhirnya, papinya mengizinkan Syafruddin membonceng Chao-Xing.

Di belakang punggung Syafruddin, Chao-Xing ketawa cekikan. Syafruddin heran, “Kenapa kau ketawa sendirian? Apa yang lucu?”

Arsip Cerpen di Indonesia